AL QUR’AN DALAM PANDANGAN NAPOLEON BONAPARTE

Oleh: M.S. Soelaeman **)

(Masjid Nuurul Irfaan, Universitas Negeri Jakarta)

”Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus, dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh, bahwa bagi mereka adalah pahala yang besar” ( QS Al-Israa: 9 )

Pada suatu hari, Napoleon Bonaparte berpikir tentang kaum muslimin, lalu bertanya kepada stafnya :  “Di manakah pusat keberadaan mereka?”.  Dengan pengetahuan yang terbatas, stafnya memberikan informasi, bahwa sepengetahuan mereka, salah satu pusat kaum muslimin adalah di Mesir.

Mengapa Napoleon ingin masuk ke dalam  pusat peradaban Islam? Salah satu alasannya mungkin, dia membaca buku sejarah Islam. Memang tercatat dalam sejarah Islam, bagaimana kaum muslimin pernah mampu meruntuhkan dan menguasai dua kerajaan besar yang menguasai bagian dunia, negara adi daya pada jaman itu: Persia dan Romawi. Sebagai seorang Panglima Perang, tentu Napoleon ingin mengetahui rahasia kejayaan Islam. Dia tentu belum tahu bahwa motivasi terpenting yang dimiliki seluruh bala tentara Islam saat itu, adalah berjihad di jalan Allah, dan : ”keyakinan” dalam jiwa mereka, bisa mengalahkan musuh, sesuai   firman Allah  dalam QS A-Baqarah : 249

“Berkatalah orang-orang yang yakin,  bahwa mereka akan bertemu dengan Allah: Berapa banyak terjadi golongan  yang kecil / sedikit   dapat mengalahkan golongan yang ber-jumlah banyak/besar dengan izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Pada tahun 1798, Napoleon memimpin tentara Perancis menyerbu Mesir. Menurut catatan sejarah, langkah ini tidak termasuk sukses, karena meskipun pertempuran di darat pada umumnya berhasil dimenangkan, tetapi di lautan, armada Perancis berhasil diobrak-abrik oleh armada Inggeris  yang dipimpin oleh Lord Nelson.

Meskipun kekalahan pertempuran di laut ini mengganggu konsentrasinya, tetapi dia tetap ingat akan untuk mengetahui seluk beluk Islam. Dan dia sekarang  berada salah satu pusat Islam, yaitu Mesir,  negeri yang telah dia taklukkan. Diam-diam  dia mengajak  staf dan penerjemah mencari salah satu perpustakaan terbaik di negeri ini. Ketika di  perpustakaan mempelajari Al-Qur’an,  dia tertarik pada QS. Al-Israa : 9, seperti diatas. Rupanya Firman Allah ini  sangat membekas di hati Napoleon. ”Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus..”.  Semalaman dia tidak tidur, karena  merenungkan ayat ini. Keesokan harinya Napoleon kembali berkunjung ke perpustakaan dan penerjemahnya membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang lainnya.

Setelah belajar tentang Islam selama tiga hari penuh, tentu akhirnya Napoleon mempunyai pandangan tertentu tentang Al Qur’an dan kaum Muslimin. Di hari ketiga setelah mempelajari ayat-ayat suci Al Qur’an bersama penerjemahnya, Napoleon bertanya kepada para staffnya : ”Apa makna Al Qur’an bagi kaum muslimin?”,  yang dijawab oleh stafnya : ”Kaum muslimin sangat meyakini bahwa Al Qur’an diturunkan oleh Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. Mereka akan memegang teguh Al Qur’an ini sebagai petunjuk, sampai hari akhir”.

Setelah merenung beberapa saat,  Napoleon berkata : ”Apa yang saya fahami tentang Kitab ini adalah, saya merasa bahwa apabila seluruh kaum muslimin menjalankan ajaran Kitab ini, maka mereka tidak akan pernah terhina. Selama Al Qur’an berkuasa dalam kehidupan kaum muslimin, maka mereka tidak akan tunduk kepada siapapun, termasuk kepada kita, orang-orang Barat; Kita hanya akan dapat menundukkan mereka, apabila kita bisa memisahkan mereka, kaum muslimin dengan Al Qur’an.

Sangat menarik, karena hampir mirip dengan kejadian bangsa kita dan umat Islam saat ini. Kita menjadi bangsa yang terhina karena tidak menjalankan agama kita. Ummat Islam bisa ditundukkan, karena mereka, bangsa lain, berhasil memisahkan kita dari Al-Qur’an.

Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing : ”Pernahkah kita, merasa sangat tertarik pada salah satu firman Allah swt, lalu merenungkannya dengan sungguh-sungguh, sampai tidak bisa tidur semalaman seperti Napoleon Bonaparte, yang bukan orang Islam?”

Seandainya belum pernah, maka salah satu jawabannya adalah mungkin kita kurang bersungguh-sungguh dalam mengamalkan Islam kita. Kita katakan yakin bahwa Islam adalah jalan keselamatan dunia akhirat, tetapi perilaku kita tidak Islami. Dalam QS Ali Imran: 103, Allah swt. memerintahkan : ”Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah   dan janganlah kamu sekalian berpecah belah….,” . Tetapi yang kita saksikan adalah antarpolitisi, antarkelompok masyarakat, bahkan antarpemuda, antarmahasiswa sudah sangat terbiasa saling memaki, saling menghinakan, saling merusak, saling menerkam, bahkan saling membunuh.

Akibatnya,  masyarakat kita yang terkenal lemah-lembut, kini menjadi buas; orangtua kita di jaman dulu yang terkenal amanah, di jaman ini korupsi semakin mengganas; negara kita yang sesungguhnya kaya raya,  malahan manjadi bangsa yang terlunta-lunta dan terhina. Ini semua karena kita sudah melepaskan diri dari tali agama, sesuai  firman Allah dalam QS Ali Imran: 112,  ”Mereka diliputi kehinaan di mana pun mereka berada, kecuali bila mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) dirundung kesengsaraan” . Kemudian firman ini lebih ditegaskan kembali oleh Rasulullah saw.:   “Niscaya Allah akan timpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dicabut / dihilangkan kehinaan ini,  hingga kalian kembali kepada agama kalian.”

Tetapi Allah swt tentu tidak membiarkan keterpurukan umat Islam dan bangsa kita khususnya.  Allah swt berjanji dalam firman-Nya QS An Nur : 55, “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan mengganti keadaan mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa….”

Apabila kita memang bersungguh-sungguh ingin bangsa kita adil makmur, aman sentosa, bermartabat dan disegani bangsa lain, maka Allah swt pun telah memberikan petunjuk dengan sungguh-sungguh, dan  sangat jelas yakni agar kita beriman dan mengerjakan amal shalih. Wallahu a’lam bishshawab

*) Diolah dari berbagai sumber

**) Dewan Penasehat Masjid Nuurul Irfaan, Universitas Negeri Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s