IBADAH DAN KUALITAS KESADARAN INTELEKTUAL

 Oleh: Fahmy Lukman

(Universitas Padjadjaran Bandung)

 

Ibadah ritual dalam Islam dengan seluruh aktivitasnya merupakan upaya meningkatkan kualitas kepribadian muslim dan masyarakatnya. Sangat jelas dorongan Al-Qur’an ke arah peningkatan kualitas ini tercermin dalam banyak ayat, baik dalam kaitannya dengan shalat, shaum Ramadhan, zakat, berhaji maupun dalam konteks yang lain. Kata taqwa yang dikorelasikan dengan shaum (QS. 2: 183) misalnya, berbicara tentang kualitas diri. Adanya penciptaan al-maut (kematian) dan al-hayah (kehidupan) dalam surat Al-Mulk ayat 1dan 2 ujungnya menyebut tentang kualitas, yaitu “menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya”. Kata ‘Amal dalam bahasa Arab bermakna ‘perbuatan’; perbuatan sama dengan aktivitas. Jadi ayat itu bicara tentang kualitas aktivitas dalam hidup manusia.

“ Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,  yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (TQS. Al-Mulk [67]: 1-2)

Membincangkan kualitas dapat diperdebatkan dalam hitungan jam ataupun hari. Secara sederhana kualitas/mutu adalah tingkat/derajat tentang baik-buruknya sesuatu. Sebagai sebuah istilah, kata ini dapat dilekatkan pada dimensi apa saja, mulai dari sebuah produk barang sampai sesuatu yang abstrak.

Kualitas kesadaran sifatnya abstrak. Sulit orang mengukur seberapa besar kesadaran yang dimiliki seseorang. Dalam dimensi Islam, kesadaran merupakan sesuatu yang aktif, gerak, dinamis, dan berenergi. Perhatikanlah kata taqwa. Taqwa bukanlah sebuah kesadaran yang hanya sekedar iman dalam arti percaya semata, yang hanya dapat dirasakan dalam hati seseorang, tetapi taqwa merupakan sesuatu yang aktif, dinamis, dan berenergi. Taqwa itu sebuah entitas yang maujud (riil), dapat diukur, dan tampak sebagai sebuah kenyataan yang hidup. Taqwa dapat dirasakan akibatnya oleh dirinya sendiri dan orang lain, siapapun. Seseorang diukur bertaqwa ketika hal tersebut maujud dalam lisan, tatapan mata, dalam mendengar dan berbicara, dalam tindakan tangannya, dalam setiap langkahnya. Termasuk dalam hal ini pula taqwa tercermin dalam cara berfikirnya. Taqwa dapat diukur secara riil dalam perilaku manusia. Dikatakan bertaqwa tatkala setiap ujaran yang diluncurkan lisannya adalah sesuatu yang jujur, benar, dan santun. Kesantunan bertutur tatkala berbicara dengan orang lain, tidak menimbulkan fitnah, tidak menyakiti perasaannya, tidak menggunjingkannya.  Itu adalah wujud riil taqwa. Kesantunan tatkala mendengar keluh kesah orang lain, santun dalam bertindak dan melangkah menunjukkan taqwa sebagai sesuatu yang dinamis, aktif, dan fungsional.

Kualitas kesadaran terjadi pula dalam konteks hidup dan matinya seseorang. Pemahaman terhadap hidup dan mati dalam perspektif Islam adalah sebuah kesadaran yang tinggi yang berdampak pada perilaku manusia. Kesadaran terhadap kematian menunjukkan makna yang dinamis bukan ketakutan. Kata mati memberikan  pengaruh yang luar biasa terhadap perilaku manusia. Kesadaran ini merupakan bentuk kesadaran adanya akuntanbilitas bahwa setiap perilaku manusia harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Karena manusia pasti mati, kematian tidak mungkin dielakkan, maka dalam Islam mati bukanlah akhir dari perjalanan hidup manusia.

Oleh sebab itu, kata taqwa, adanya hidup-mati adalah sebuah vektor yang merujuk pada arah perubahan (change) perilaku, sikap, akhlak. Perubahan yang dituju adalah perubahan ke arah yang benar dan baik dalam tolak ukur nilai yang terdapat dalam aqidah dan syariat Islam.

Seorang berkesadaran tinggi itulah yang disebut dalam Al-Quran dengan istilah ulil albab, seorang inteklektual plus. Seorang ulil albab adalah orang yang mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran bukan hanya kepada dirinya, tetapi juga kepada masyarakatnya, sekaligus memberi arah terhadap perubahan ke arah yang yang lebih baik (kualitas) bagi diri dan masyarakatnya. Kualitas seorang ulil albab harus muncul dalam mengubah masyarakatnya yang statis, jumud, dan mandul-impoten menjadi masyarakat dinamis, bergairah, selalu berubah ke arah yang lebih baik, maju dan mandiri. Kesadaran diri seorang ulil albab itulah yang mampu mengubah rakyat yang statis dan jumud menjadi sebuah kekuatan yang dinamis, kreatif, dan inovatif.

Keadilan adalah sebuah kesadaran, bukanlah sekedar prinsip agama yang statis. Dalam keadilan mengandung sebuah martabat manusia yang luhur, mulia, dan egaliter (sama) di hadapan Tuhan.

Sebuah bentuk kualitas kesadaran intelektual yang riil dan dinamis telah dipratekkan para sahabat Rasulullah saw. Dalam mengubah masyarakatnya. Kita dapat memperhatikan kualitas khalifah Abu Bakar Shiddiq tatkala menjabat kepala negara pertama dalam Islam. Saat itu Baitul Maal menetapkan santunan per bulan bagi beliau sebesar 10 dinar emas. Tatkala beliau mengetahui bahwa isterinya masih bisa menabung 1 dinar emas per bulan, maka beliau mengambil sikap dan keputusan  dengan mencukupkan santunan hanya 9 dinar emas/bulan. Satu alasannya, santunan itu berasal dari uang rakyat.

Kita bisa menyaksikan betapa indahnya gaya kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, yang disebut Rasulullah sebagai pintu ilmu; seorang ulil albab. Beliau memerintahkan agar semua pegawai pada semua level jabatan diubah standar gajinya. Beliau memberikan gaji yang sama untuk semua level jabatan, baik ia seorang pemimpin tertinggi militer yang sekaligus merupakan cermin tokoh sosial dan politik yang penting dalam masyarakatnya dengan seorang budak yang bekerja sebagai prajurit. Hal tersebut tidak mungkin terjadi jika bukan karena adanya kualitas kesadaran intelektual yang tinggi yang dimiliki seorang pemimpin. Perhatikan pula tindakan ‘Ali bin Abi Thalib tatkala beliau menegur Maytsam yang menjual kurma menjadi 2 bagian, satu bagian kurma yang berkualitas bagus dan satu bagian yang lain berkualitas buruk. Dengan tegas Imam ‘Ali menegur Haytsam bahwa ia tidak boleh membagi umat Tuhan dalam kelompok-kelompok yang berbeda  dengan cara memilah kurma dalam 2 kualitas yang berbeda.  Lalu Ali dengan tangannya sendiri mencampurkan kurma-kurma tersebut dan memerintahkan Haytsam untuk menjualnya dengan harga yang sama untuk semua orang yang membeli.

Tugas seorang intelektual dengan kualitas dan kapasitas yang dimilikinya adalah mengubah konflik-konflik sosial yang terjadi di masyarakatnya. Perbedaan yang terjadi seharusnya disinergikan ke arah kemajuan masyarakatnya dan  bukan merekayasa  konflik dalam tujuan dan kepentingan individu atau kelompok. Tanggung jawab terbesar dari orang-orang yang hendak membangun kembali masyarakat mereka adalah menyatukan unsur-unsur masyarakat yang terpecah belah dan terkadang saling bertentangan. Tugas yang utama dan terutama adalah strategi untuk merealisasikan agenda kolektif di dalam memperbaiki kehidupan/kesejahteraan seluruh masyarakat dan lingkungan sekelilingnya. Pada titik inilah ibadah menjadi kekuatan yang membentuk kualitas ketakwaan dan pada giliran berikutnya berujung pada implementasi riil darlam menata kehidupan. Jika demikian halnya maka agama, ibadah, dan takwa merupakan entitas yang hidup, dinamis, inovatif, berenergi positif, berkarakter, berintegritas. Semoga Allah swt. memampukan kita untuk merealisasikan agama dalam realitas kehidupan kita sehari-hari. Aaamiin.  Wallahu a’lam.

*) Diolah dari berbagai sumber; **) Dosen Universitas Padjadjaran Bandung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s