MANUSIA ADALAH MAKHLUK HANIF

Oleh : Hermawan Dipojono

(Masjid Salman ITB)

Manusia termasuk makhluk yang diberi salah satu sifat dasar (fitrah) yaitu hanif yang cenderung pada kebaikan. Jika kita diberi alternatif dalam sebuah pilihan, manusia selalu memilih yang diyakini terbaik bagi dirinya. Terlepas kemungkinan dia salah terhadap pilihan-pilihan itu. Manakala sesuatu yang terbaik  itu  telah  diyakininya dengan kuat dan mengkristal, maka dalam dirinya akan tumbuh tekad, semangat dan energi untuk mencoba mewujudkan apa yang diyakininya tersebut. Ketika masyarakat dan bangsa  sampai pada titik kesimpulan dan keyakinan mengenai sebuah kebaikan bersama, maka bangsa tersebut akan melahirkan energi yang tidak terbayangkan sebelumnya. Dalam kehidupan nyata, seorang mahasiswa mengalami pada saat masa-masa di SLTA, mereka yakin bahwa masuk perguruan tinggi adalah suatu hal yang baik bagi dirinya dan masa depannya. Oleh karenanya, mereka bersedia bekerja keras di waktu siang dan malam dan bahkan mimpinya pun mungkin rumus-rumus. Karena demikian fokusnya, dia mampu membangkitkan semangat dan energi.

Bangsa ini juga, pada suatu saat, pada episode sejarahnya mampu sampai pada tingkat keyakinan bahwa merdeka jauh lebih baik daripada hidup, walaupun terhormat tapi terjajah. Sehingga bangsa ini dengan segala keterbatasannya mampu mengalahkan salah satu pemenang perang dunia II sampai bangsa kita mencapai kemerdekaannya. Bangsa Korea yakin bahwa dengan mengalahkan Jepang maka harga diri mereka terangkat. Oleh karenanya, mereka memiliki semangat let beat the japanese (mari kalahkan jepang) dan mereka sekarang memetik hasilnya.

Jadi, keyakinan terhadap sesuatu yang dianggap baik itu mampu menumbuhkan keinginan kuat untuk menggapai dan mencapainya. Itu terbukti bisa melahirkan sebuah energi yang tidak ada batasnya. Oleh karena kita memiliki keterbatasan, Alquran mengingatkan kita bahwa kadang-kadang yang kita anggap baik itu belum tentu baik bagi diri kita dan kadang-kadang yang kita anggap buruk itu belum tentu buruk juga untuk kita.

Umumnya kita mampu mengatakan sesuatu hal yang baik itu dan kita mampu mengkristalkannya karena kita mampu membayangkan dampak-dampaknya pada kehidupan kita. Apa yang akan dia petik ketika dia mampu menyelesaikan dari perguruan tingginya. Demikian terbayangnya, karena banyak alumni yang kehidupannya itu nyaman. Terkadang implikasi jangka pendek ini yang mampu dapat segera ditangkap dan diyakini benar sebagai yang terbaik maka dia siap mengarungi kehidupan berat sekalipun untuk menggapainya. Dan yang ditimbulkan juga akan sangat mngagumkan untuk orang yang mampu membangkitkan energi dalam dirinya. Karena sebenarnya manusia mempunyai potensi yang luar biasa jika memaksimalkan kinerjanya.

Allah melengkapi kita dengan sifat-sifat dasar yang selalu cenderung pada kebaikan dan selalu memilih yang terbaik bagi dirinya. Ini adalah yang terbaik untuk kamu. Bahkan juga dengan melengkapi jalan ini akan sampai pada yang terbaik bagi kamu. Allahpun memberikan contoh yang real pada pribadi-pribadi yang mampu  memilih yang terbaik sampai pada tingkat absubs. Al Qur’an telah menyebutkan bahwa: “Allah menyeru dan mengajak pada darussalam,  kepada negeri yang tentram dan damai”. Tapi membayangkan surga ini  adalah sesuatu yang luar biasa sulitnya. Mungkin kita lebih mudah membayangkan blackberry, mobil mewah, ataupun rumah-rumah yang besar. Sehingga lebih mudah terdorong untuk menggapai yang sifatnya jangka pendek.

Fasilitas di surga sana seperti sungai-sungai mengalir di bawahnya. Tentu ini bukan untuk ditujukan kepada kita yang sering kebajiran atau mereka yang tinggal di padang pasir, tapi surga itu digambarkan dengan komprehensif, tidak mungkin tidak menyentuh seorang manusia. Paling tidak surga digambarkan sebagai negeri yang tentram, damai dimana disana mendapatkan kebahagiaan yang tanpa batas. Tidak ada manusia yang tidak mendambakan hidup damai dan sejahtera tersebut.

Ini penting sekali, akan mudah kita gambarkan adalah yang bersifat sementara dan ini normal karena kita terbatas. Ketika pintu kematian terbuka, maka tidak akan pernah terjadi kembali dan bercerita disana memang ada kehidupan. Syukur Allah memberi kemampuan kita berimaginasi, bahkan kita mampu menuangkannya dalam simbol-simbol matematika. Bukan hanya pada dimensi yang ke-4 melainkan sampai dimensi ke-n pun kita mampu. Dan seharusnya kita mampu paling tidak pada level meyakini adanya surga tersebut.

Hanya dengan begitu, perjalanan kita bukan sebagai indivvdu saja melainkan sebagai suatu bangsa, insyaAllah akan selamat. Agama kita jelas sekali tidak mengharamkan dunia. Salah satu hadist menyebutkan “Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagian dari kenikmatan dunia”

Kita bersyukur, paling tidak dengan demikian kita jelas harus punya orientasi menembus ruang dan waktu kebahagiaan akhirat. Kriterianya apakah itu bisa menjamin kehidupan kita di akhirat? Semoga dengan demikian, Indonesia hari ini harus lebih baik dari kemarin dan besok harus lebih baik dari hari ini. Semoga kita mampu mengawali hidup kita di dunia ini dengan baik, menebarkan kebaikan karena kita yakin ada kehidupan ketika pintu kematian dibukakan untuk kita.

*) Diambil dari Khutbah Jum’at di Masjid Salman ITB

**) Guru Besar Institut Teknologi Bandung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s