NILAI ILAHIYAH *)

Oleh: Hermawan K Dipojono **)

(Masjid Salman ITB)

Salah satu hal yang perlu kita syukuri, yaitu kita mampu melawan hawa nafsu kita.  Kita sudah membuktikan bahwa makanan yang enak minuman yang menggiurkan tidak mampu menggoda kita, walaupun sebetulnya kita sangat menginginkannya. Kita berbahagia mampu mengendalikan emosi dan amarah yang biasanya tidak bisa kita kendalikan. Kita juga merasa lega mampu melawan perasaan kebatilan dengan membayar zakat dan infak.

Tetapi, tidak bisa kita pungkiri bahwa banyak kejahatan yang tetap terjadi. Pelanggaran lalu lintas, penggelapan oleh pemerintah dan lain-lain. Perilaku ini malah menjadi sesuatu yang dianggap wajar dan seolah-olah sudah menjadi budaya kita semua. Alasan-alasan pribadi banyak terlontarkan untuk mendukung tindak buruk itu. Amalan-amalan yang dilakukan sebagai pembayar utang saja tanpa menghadirkan hati dalam tiap beramal. Ini merupakan kekeliruan dalam beragama.

Beragama merupakan komitmen yang menuntut keseluruhan organ tubuh yang akan menjamin proses pengendalian diri. Ada beberapa pemikiran bahwa banyak sekali orang yang berbuat baik, tetapi itu tidak memberikan dampak baik pula kepada dirinya sendiri, hanya sebatas amal sia-sia belaka. Tentu kita tidak ingin menjadi orang seperti itu, kita punya pedoman Al-Quran yang memberikan dampak positif kepada diri kita. Al-Quran merupakan pendorong dan pemandu demi mendorong segala bidang  kehidupan.

Kondisi masyarakat madani akan tercapai jika dua unsur berikut terpenuhi, yaitu nilai atau ide dan pelaku atau pemimpin yang mengusung nilai-nilai tersebut. Nilai yang dimaksud ini merupakan nilai yang mementingkan sesuatu atau yang sering disebut dengan nilai Ilahiyah. Nilai Ilahiyah ini bisa beraneka ragam, contohnya nafsu yang bisa menjadi Ilah. Jika nafsu ini menjadi Ilah maka hancurlah pribadi manusia tersebut. Mereka akan selalu tenggelam dalam kenikmaatn duniawi saja tanpa mempedulikan bagaimana nasib mereka di akhirat.

Nilai ilahiyah yang bisa meningkatkan kapasitas manusia, yaitu ketika manusia itu bisa menjadikan ALLAH sebagai ilahnya. Ia akan memprioritaskan ALLAH. Nilai ini disebut dengan nilai tauhid yang senantiasa ia akan meningkatkan keyakinannya terhadap ALLAH dan selalu mengagungkannya.

Pada zaman ini, ada beberapa kekutan yang menjadi hawa nafsu sebagai ilah. Kekuatan ini terbagi dalam tiga jenis, yaitu kekuatan ekonomi, politik dan sosial budaya. Kekuatan ekonomi akan mendominasi seseorang bila nilai material telah memenuhi haitnya. Hidupnya hanya berorientasi dalam mencari uang dan uang. Mereka akan menjunjung tinggi uang  sampai mengalahkan segala-galanya.

Kekuatan yang kedua, yaitu kekuatan politik. Seseorang akan berusaha bagaimanapun caranya agar menduduki suatu jabatan untuk mendapatkan kekuasaan. Politik yang digunakan biasanya politik amoral. Mereka menghalalkan segala cara walau itu adalah jalan haram. Mereka tidak peduli nilai moral apa saja yang harus dijaga asalakan kedudukannya bisa semakin tinggi.

Kekuatan yang ketiga, yaitu kekuatan sosial budaya. Kekuatan ini akan membabi buta dengan mengesampingkan nilai-nilai leluhur. Mereka melepaskan budaya-budaya yang mengekang mereka. Mereka membuat aturan sendiri yang membuat mereka bebas beraktifitas, bebas berbudaya apapun.

Saat ini, ketiga nilai tersebut selalu mengikis nilai-nilai Islam sedikit demi sedikit. Untuk mengantisipasi diperlukan pemimpin yang mampu mengendaikan kondisi masyarakat saat ini. Pemimpin yang ada haruslah mempunyai kehendak yang kuat, tekad yang tinggi serta keteguhan hati yang istiqamah, pemimpin tersebut harusnya selalu meninggikan asma ALLAH di manapun dan kapanpun ia berada.

Kehendak pemimpin ini tidak akan terwujud tanpa adanya keikhlasan dan keikhlasan dari pemimpin ini tidak akan terwujud tanpa adanya niatan yang kuat. Oleh karena itu, Islam sudah memberikan keteladanan melalui baginda Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pemimpin. Sepatutnya pemimpin saat ini mencontoh beliau agar terjadinya masyarakat yang madani.

Dengan berkolaborasinya dua aspek ini, maka masyarakat yang berakhlak mulia akan terwujud, keadilan akan jaya dan ketaatan kepada ALLAH akan semakin meningkat. Setiap insan akan merasakan kedamaian dalam naungan agam islam. Setiap insan terjamin kehidupanya dibawah kepemimpinan yang seperti dicontohkan Rasulullah.

*) Diambil dari Khutbah Jum’at di Masjid Salman ITB

**) Guru Besar Institut Teknologi Bandung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s