RENUNGAN PERJUANGAN *)

Oleh: Fadlullah **)

(Universitas Tirtayasa)

 Kemenangan adalah rahmat dari Allah SWT dan merupakan hasil dari perjuangan yang tulus, gigih, dan pantang menyerah. Kemenangan tertinggi adalah kebahagiaan. Inilah yang selalu dikumandangkan muadzin setiap waktu shalat: hayya ‘ala shalah! Rahmat Allah yang bernama kebahagiaan itu diharapkan oleh orang istimewa sebagaimana firman Allah berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Baqarah [2]: 218)

Ayat di atas menyebut tiga tahap menuju kemenangan sejati, yakni: iman, hijrah, dan jihad. Tiga tahap itu pula yang menandai tonggak sejarah awal Islam. Pertama, penanaman nilai-nilai tauhid sebagai esensi ajaran aqidah Islam di Makkah. Kedua, hijrah atau pindah dari Makkah ke Madinah, suatu daerah yang lebih subur untuk menyebarkan dan menyemai ajaran Islam. Hijrah pun menjadi pembatas antara periode Makkah dan Madinah. Ketiga, melaksanakan jihad dan pelaksanaan syari’ah dalam suatu negara berdaulat di Madinah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.

Tahap pertama menuju kemenangan adalah memperbaharui komitmen iman. Iman kepada Allah Yang Maha Esa. Allah Yang Maha Hidup dan menjamin kehidupan seluruh makhluk-Nya. Percaya bahwa Allah telah menyediakan secara melimpah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk melayani dan meningkatkan kualitas hidup manusia.

Selain keyakinan, pada tahap ini cara berpikir dan bertindak pun harus diperbaiki. Ditanamkan pada diri setiap mukmin bahwa kelangkaan dan malapetaka terjadi bukan karena ketidakmampuan bumi ciptaan Allah dalam memenuhi kebutuhan manusia. Kelangkaan terjadi karena perilaku serakah, misalokasi, salah kelola dan pemanfaatan sumberdaya secara berlebihan dengan tidak mengindahkan hukum keseimbangan.

Komitmen iman seorang mukmin terlihat nyata dalam kegiatan ibadah, yakni hanya menyembah dan meminta pertolongan hanya kepada Allah. Meluruskan niat dalam beribadah dengan mengharap ridla Allah SWT semata. Membebaskan diri dari anasir-anasir syirik, tahayul, bid’ah, churafat, dan indikasi riya’, yakni mengharapkan pujian manusia. Dengan komitmen seperti itu, seorang mukmin terlatih untuk bersikap kritis terhadap tradisi, adat istiadat, kepercayaan dan pikiran, upacara-upacara atau apa yang telah menjadi kebiasaan keluarga, masyarakat dan suku bangsanya.

Kesahihan iman juga tercermin pada kesediaan seorang mukmin untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai imam, meneladani sunnah Nabawiyah dan tradisi para sahabatnya yang mulia. Kaum mukmin rajin membaca, mempelajari, dan mengajarkan Al-Qur’an. Taat melaksanakan ibadah dan menghimpun segenap aktivitas dan sumber-sumber daya dalam mengembangkan dakwah dan melayani  umat. Karakter orang beriman ini antara lain dinyatakan secara tegas dalam firman Allah berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia”. (Qs. Al-Anfal [8]: 2-4)

Tahap kedua menuju kemenangan adalah hijrah. Hijrah dalam hal ini tidak lagi bermakna migrasi dari ‘negeri kafir’ ke ‘negeri Islam’. Hijrah lebih menekankan pada transformasi mental seorang mukmin untuk meninggalkan segala perbuatan yang dilarang Allah SWT. Transformasi moral intelektual untuk meninggalkan kejahiliahan masa lalu dan menatap masa depan berdasarkan nilai-nilai baru yang digali dari kandungan Al-Qur’an. Rasulullah bersabda:

المسلم من سلم المسلمون من لسانه و يده والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه

Muslim adalah orang yang orang muslim lain selamat dari keburukan lisan dan tindakannya. Sedangkan orang yang hijrah adalah orang yang menjauhi apa yang dilarang Allah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada tahap hijrah, garis batas antara hak dan batil dalam bashiroh seorang mukmin terbentang dengan jelas. Hak dan batil tidak dapat dikompromikan. Di sinilah pilihan ideologis seorang mukmin dipertaruhkan. Hijrah merupakan bentuk konsistensi dan loyalitas seorang mukmin terhadap komitmen, keyakinan, nilai-nilai, dan aspirasi yang dipercayainya akan membawa kepada kemaslahatan.

Seorang mukmin yang telah berhijrah tercermin dalam sikap dan perilakunya yang mantap melakukan usaha perbaikan diri. Misalnya konsisten menunaikan zakat dan meninggalkan riba. Berusaha menegakkan keadilan sosial dan meninggalkan segala bentuk pengelolaan kekayaan yang merugikan orang lain, seperti mengurangi takaran dan timbangan dalam transaksi perdagangan.

Seorang yang telah berhijrah dapat kita sebut sebagai aktivis dakwah yang melakukan perjuangan dengan pendekatan kultural. Melakukan perbaikan diri dan mengajak orang lain dalam mengembangkan dakwah Islam. Aktif mengajarkan dan mendakwahkan Islam kepada keluarga dan masyarakat luas. Meyakinkan orang lain tentang kebenaran Islam melalui dialog langsung, melaksanakan diskusi dalam berbagai forum-forum ilmiah, melakukan korespondensi, melakukan kunjungan dan lawatan ke berbagai daerah untuk menyampaikan dakwah.

Dalam melaksanakan agenda dakwah itu maka perlu berjamaah; satu dengan lainnya bekerjasama dan saling membantu atas dasar persaudaraan Islam. Dalam sejarah Islam semangat persaudaraan itu tercermin dalam relasi Muhajirin dan Anshar sebagaimana diabadikan dalam firman Allah berikut:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”. (Qs. Al-Hasyr [59]: 9)

Perjuangan dakwah pada tahap hijrah membutuhkan jamaah atau organisasi – tidak hanya individual. Tempat yang menjadi pusat gerakan para aktivitas dakwah itu adalah masjid. Di masjid itu para aktivis menghimpun berbagai sumber daya – baik kader mujahidin dakwah maupun sumberdaya finansial yang bersumber dari zakat, infak, dan sedekah. Pada zaman Nabi saw. dahulu, para pemuda yang belum menikah tinggal di Masjid dan tekun belajar Al-Qur’an dan mendengarkan pelajaran dari Nabi. Mereka dikenal dengan sebutan “ahl shuffah”. Masjid digunakan para aktivis dakwah sebagai pusat peradaban dengan melaksanakan pendidikan, kaderisasi, pengkajian Islam, penyuluhan dan pelayanan sosial.

Karakter utama yang ditekankan pada tahap hijrah ini adalah ketekunan, kesabaran, ketahanmalangan dan kolaborasi dalam menghadapi segala uji coba dan permusuhan. Kolaborasi dan kerjasama dengan berbagai pihak diperlukan untuk menghindari konflik yang merugikan proses pembinaan jamaah.

Disadari bahwa pembangunan peradaban tidak cukup dengan menyebarkan ajaran melalui penyuluhan (tabligh) dan pengajaran (taklim). Namun juga harus dimulai usaha sungguh-sungguh membatasi, mengurangi, dan menghapuskan berbagai bentuk ketidakadilan dalam masyarakat secara terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan.

Aktivitas dakwah kita tidak cukup dengan menggerakkan pembangunan sosial. Tetapi membiarkan atau tidak berbuat sesuatu untuk mencegah terjadinya kerusakan dan menyebarnya penyakit sosial, seperti minuman keras, perjudian, dan prostitusi. Jika kehidupan bernegara ibarat berlayar dengan kapal. Kita tidak boleh membiarkan orang melubangi kapal. Kita harus bertindak cepat jika tidak ingin kapal bocor dan tenggelam ke dasar laut.

Kita sadar bahwa dakwah Islam pada dasarnya mengambil jalan damai dengan pendekatan persuasif. Dakwah tidak boleh menggunakan kekerasan. Lalu bagaimana dengan pemberantasan korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), perjudian, perdagangan manusia, prostitusi, dan tindakan krimal lainnya? Kita memerlukan jalan jihad atau amar ma’ruf nahi munkar. Dalam hal ini kita perlu institusi bernama negara dengan kepemimpinan yang kuat dalam menjalankan supremasi hukum yang adil.

Ajaran agama dan nilai-nilai keadaban tidak berlaku efektif tanpa melakukan kerja jihad fi sabilillah melawan kebatilan. Kerja jihad menghendaki negara berdaulat yang memiliki kemandirian ekonomi, dan ketersediaan polisi dan tentara yang bertugas menjaga keamanan dan pertahanan yang memadai. Negara yang kuat dan tegas dalam memberaktas kemunkaran akan menjamin ketertiban. Sebaliknya, negara yang lemah menyebabkan tindakan anarki dan memicu tindakan “main hukum” sendiri di kalangan rakyat. [fdh]

*) Diolah dari berbagai sumber

**) Dosen Agama Islam, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s