DO’A DAN BERDO’A

oleh: Indradjati Sidi

(Institut Teknologi Bandung)

Jika kita simak yang terjadi di tengah tengah masyarakat melalui media masa, maka kata dapat menyaksikan banyak hal yang tidak baik. Kejujuran sudah menjadi barang yang langka, tidak disiplin, pelanggaran dimana – mana. Tujuh belas dari 33 Gubernur pada tahun 2010 terkena kasus korupsi, Seratus lima puluh Kepala Daerah dari 487 Kabupaten Kota tersandung kasus korupsi.

Bangsa ini sudah mulai di kenal sebagai bangsa yang malas, yang suka liburan dan jarang kita dengar diskusi – diskusi yang hangat mengenai upaya–upaya peningkatan mutu, penuntasan kemiskinan, menyelesaikan masalah- masalah. Kalau kita lihat keadaan tadi memang tidak mengherankan karena “Human Development Index” bangsa indonesia adalah ranking 109 negara dari 139 negara. Angka tersebut membayangkan komitmen bangsa ini terhadap pembangunan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Negara – Negara tetangga seperti Singapura, Australia, dan Malaysia, berada di atas kita,  mereka siap bersaing pada abad global ini. Kenapa ? karena SDM nya telah disiapkan untuk itu dan kita masih main–main. Karena kita masih berada diatas level diatas 100 untuk beberapa tahun belakang ini, oleh karena itu kita harus melakukan sesuatu.

Perguruan Tinggi adalah salah satu lembaga yang termuka di Indonesia harus bisa memainkan peran yang dominan, peran yang signifikan di dalam rubah situasi yang seperti ini. Jelas situasi yang seperti ini memerlukan energi yang sangat besar , jika tidak kita akan terjebak didalam “HUKUM NEWTON 1” yang mengatakan “Bahwa benda akan tetap diam atau selalu bergerak dan tidak akan pernah berhenti bergerak sebelum ada gaya yang dikerjakan kepada benda tadi karena ada pengaruh Inersia”.

Kalau kita lihat analogi tersebut maka Inersia untuk malas, Inersia untuk korupsi, Inersia untuk tidak jujur, Inersia untuk tidak disiplin, inersia untuk tetap pada status, diperlukan upaya yang keras untuk bisa mengatasi hal tersebut.

Islam mengajarkan kepada kita berdo’a dan bekerja dengan sekeras-kerasnya di dalam satu kesatuan yang utuh, bukan berdo’a saja tanpa ikhtiar, tapi bukan bekerja saja tanpa do’a. Al-Qur’an dan Rasullulah SAW memerintahkan kita untuk berdo’a, dengan contoh–contoh yang disampaikan para Nabi.

Para Nabi tidak hanya bekerja untuk meluruskan umat, tapi juga berdo’a. Alangkah sombongnya kita sekalian bahwa kita bisa mengatasi masalah–masalah bangsa ini tanpa berdo’a dan itu termasuk orang–orang  yang sombong dan Allah murka terhadap yang sombong.

Do’a merupakan manivestasi daripada penghambaan dan pengakuan kita kepada Allah, dalam kalimat sahadat “Aku Bersaksi Bahwa Tiada Tuhan Selain Allah, dan Nabi Muhammad itu adalah Utusan Allah” Do’a telah menempatkan kepada kita bahwa Allah Maha Besar, kita berhasil hanya dengan Izin Allah swt.

Karena itu dalam kita melakukan upaya perubahan di rumah tangga, disekolah, di perguruan tinggi, di kementrian, di masyarakat tidak bisa kita hanya menggunakan strategi kebijakan saja tapi harus kita barengi dengan do’a yang kuat, sekuat–kuatnya. Umat Islam adalah dia yang kuat di dalam berdo’a.

Lebih jauh lagi bahwa Allah swt berfirman yang artinya “Apabila Hamba – hambaku bertanya kepadamu tentang aku, maka jawablah bahwasannya aku dekat, Allah dekat. Aku Kabulkan permohonan kamu apabila ia berdo’a maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahku dan hendaklah mereka beriman kepadaku agar mereka selalu dalam kebenaran” (QS. Al- Baqarah : 186).

Surat ini juga memerintahkan kepada kita untuk berdo’a. Do’a seperti apa yang dikabulkan oleh Allah SWT yaitu do’a manusia yang beriman dan bertaqwa, yang selalu memenuhi perintah Allah.

Oleh karena itu, kita tidak bisa berdo’a tapi kemudian keseharian kita melanggar perintah Allah, kita tidak bisa berdo’a dalam keseharian kita berbuat maksiat, kita berdo’a harus sesuai dengan yang kita do’a kan.

“Do’a itu adalah ibadah” begitu yang dikatakan Nabi. Karena do’a akan memberi pengaruh, do’a akan merancang bahwa kita bertindak untuk mendapatkan apa yang kita minta kepada Allah. Karena itu do’a mempunyai peranan yang sangat penting, begitu pentingnya Rasulullah SAW dalam suatu khadist nya mengatakan bahwa “Do’a adalah senjata buat kaum mu’minin, do’a adalah tiang agama yang akan menjadi cahaya bagi langit dan bumi”.

Kita lihat disini kita memiliki senjata untuk menyelesaikan masalah, apapun masalahnya. Sehingga untuk menyelesaikan masalah tidak cukup dengan kebijakan saja, tidak hanya cukup dengan strategi saja, tapi kita harus memakai do’a. Kita perlu izin Allah SWT kalau kita mau berhasil, karena itu kita harus banyak–banyak berdo’a, dan bukan hanya do’a nya saja, tapi do’a yang selaras dengan apa yang kita laksanakan atau kita kerjakan

Mintalah kalian kepada Allah dengan Anugerah-Nya sesungguhnya Allah sangat senang di minta. Sesungguhnya Allah sangat senang diminta, tapi kita tidak hanya bisa meminta saja, kita juga harus bisa bekerja dengan sebaik–baiknya. Sesungguhnya Allah ajawajala berfirman ”Aku akan mengikuti persangkaanmu hambaku kepadaku dan aku selalu menyertainya apabila ia berdo’a kepadaku”. Inilah arti Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bahwa Allah akan tahu apa yang kita sangkakan dan apa yang kita fikirkan dan Allah akan mengabulkan permintaan kita. Karena itu kita semua sesungguhnya bisa menjadi umat yang tidak hanya kuat di dalam berkarya, tetapi juga kuat di dalam berd’oa dan menjadikan do’a sebagai otak dan senjata.

Ada 3 golongan manusia yang selalu diterima do’anya yaitu :

  1. Dia yang berpuasa, maka sering-seringlah kita berpuasa, dan manfaatkan pada saat pausa untuk berdo’a berkarya dan bekerja secara patuh.
  2. Do’a pemimpin yang adil, ini artinya kalau ada pemimpin yang tidak adil, tidak akan dikabulkan do’anya oleh Allah SWT. Hal ini memberi syarat kepada kita kalau kita memilih pemimpin cari pemimpin yang adil, carilah pemimpin yang bisa mengambil kebijakan yang baik, yang adil bijaksana
  3. Do’a yang tertindas dan teraniaya, Qur’an telah menunjukan kepada kita, bahwa banyak bangsa yang hancur, banyak pemerintahan yang hancur karena telah menganiaya rakyatnya. Kita tidak ingin ini kehancuran terjadi pada bangsa kita, oleh karena itu marilah kita menjadi umat yang melakukan perubahan diberbagai tempat dimana kesempatan itu ada, di RT di RW di Perguruan Tinggi, di pemerintahan di masyarakat di organisasi untuk menjadi bangsa Indonesia yang lebih baik kita kuat dalam berkarya kita kuat di dalam berdo’a kita jadikan do’a ini adalah otak dari ibadah kita tuntunan kita, kita jadikan do’a senjata kita dan Allah Insyaallah akan membimbing kita akan mengabulkan apa yang kita inginkan.

Marilah kita sama sama tutup khutbah ini dengan berdo’a dan munajat kepada Allah swt semoga kita selalu di dalam ridhaNya.

*) Diambil dari Khutbah Jum’at di Masjid Salman ITB; **) Guru Besar Institut Teknologi Bandung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s