KARAKTER INTELEKTUAL MUSLIM

Oleh: Fadlullah

(Universitas Tirtayasa)

 

Masa depan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Jumlah penduduk yang besar merupakan berkah sekaligus musibah. Musibah jika daya saing dan kualitas sumberdaya manusia itu rendah. Penduduk yang tidak terdidik menjadi beban pemerintah dan masyarakat. Sebaliknya jika penduduk yang besar itu memperoleh layanan pendidikan yang bermutu, maka populasi angkatan kerja itu menjadi modal dasar pembangunan dan kemajuan ekonomi suatu bangsa.

Insan terdidik adalah pembelajar produktif yang memiliki akal pikiran dan kemampuan bersama menyelesaikan masalah, menggunakan, dan menemukan teknologi baru. Populasi yang besar akan meningkatkan stok pengetahuan dan pekerja yang terlatih.

Kerisauan Nabi Muhammad SAW terkait dengan kualitas sumberdaya manusia ini terlihat pada raut wajah yang berkaca-kaca pada suatu pagi menjelang shalat subuh. Bilal bin Rabbah mengajukan pertanyaan apa gerangan yang menyebabkan Nabi saw. bersedih. Rupanya Nabi memikirkan nasib umatnya. Akankah menjadi pemimpin atau menjadi “buih” di tengah samudera persaingan global. Rasulullah bercerita bahwa semalam beliau mendapatkan wahyu sebagaimana ditulis pada Qs. Ali Imran ayat 190-191 berikut:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulul albab, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Ali Imran [3]: 190-191)

Ayat di atas menandai citra ideal intelektual muslim dengan sebutan “Ulul Albab”. Ulil Albab adalah insan profetis yang mencerminkan keluhuran dalam hal pengetahuan dan tindakan benar. Dalam diri manusia terdapat tiga fakultas yang tidak dapat dipisahkan, yakni roh – fakultas zikir, akal – fakultas pikir dan jasad – fakultas amal. Dengan adanya tiga fakultas yang saling terkait tersebut, ia membimbing dan memelihara kehidupannya di dunia ini.

Dari segi fakultas zikir, intelektual muslim rajin melaksanakan sholat lima waktu. Inilah makna sederhana dari kalimat “mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring”. Muslim yang rajin shalat senantiasa berinteraksi dengan Allah dan alam semesta. Bukankah waktu shalat ditentukan berdasarkan garis edar matahari? Mulai fajar, zuhur, ashar, maghrib hingga ‘isya dan shalat di keheningan malam.

Dalam makna yang lebih luas, zikir sesudah shalat meliputi membaca dan mentadabburi isi kandungan Alqur’an. Alqur’an dibaca setiap hari sesudah shalat fardlu terutama pada pagi dan sore hari. Al-Qur’an dipelajari dan diajarkan sebagai pedoman hidup, sumber nilai, sumber hukum, dan sumber inspirasi dalam melakoni hidup di dunia. Al-Qur’an juga dipahami sebagai sumber ilmu – terutama ilmu sosial dan kemanusiaan – dalam merekonstruksi masyarakat yang beradab.

Dimaklumi bahwa Al-Qur’an berbahasa Arab.Jadi, bahasa Arab merupakan unsur utama dalam pengjian isi kandungan Al-Qur’an. Bahasa adalah media kita dalam usaha menemukan dan meningkatkan ekspresi nilai-nilai dasar kemanusiaan melalui interaksi kita dengan Al-Qur’an dan sesama manusia (alam masyarakat). Pada tahap yang lebih tinggi, pengkajian terhadap Alqur’an memerlukan logika dan ilmu tafsir, sehingga dapat menggali makna dan pemahaman filosofis terhadap kebenaran yang dikandung dalam lambang-lambang wahyu. Inilah prinsip-prinsip kebahasaan yang dibahas secara mendalam dalam ilmu ushul fiqh.

Menjadi “ulul albab” tidak cukup dengan membaca dan mempelajari Alqur’an dalam pengertian tradisional. Di dalam Al-Qur’an dinyatakan gejala-gejala alam sebagai ayat-ayat Allah. Namun, tidaklah cukup kita membaca ayat-ayat Al-Qur’an untuk meyakini kebesaran dan kekuasaan Allah. Kita juga tidak mudah menafsirkan ayat-ayat alqur’an tentang gejala alam raya itu tanpa pengamatan ilmiah. Dalam hal ini diperlukan usaha serius untuk mengembangkan pendekatan kajian tafsir bil ilmi yang melibatkan ilmuan dari berbagai disiplin ilmu.

Dari segi fakultas pikir, intelektual muslim rajin melakukan pengamatan dan penelitian ilmiah. Mempelajari hukum Allah yang berlaku pada tumbuhan, hewan, manusia, dan jagat raya ini. Berusaha mengungkap tabir dalam semua ciptaan itu sehingga terkuak cakrawala tentang kemahakuasaan Allah Yang Maha Agung. Berusaha menemukan manfaat atau nilai tambah dari seluruh sumberdaya alam yang diberikan Allah, sehingga dengan kerendahan hati sanggup berucap: “Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” 

Dalam mengelola sumberdaya alam, intelektual berpredikat ulul albab tidak melihat kekayaan alam hanya pada persediaan yang tampak oleh mata, tetapi selalu sabar dan tekun menciptakan temuan baru, berusaha mempelajari dan menggali lebih dalam tentang cadangan sumber daya yang tersembunyi. Di tangan intelektual muslim sumber daya dimobilisasi secara seimbang dan berkelanjutan, sehingga menghasilkan nilai tambah, tidak ada yang terbuang sia-sia.

Lebih lanjut, memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara kreatif dengan membangun jaringan dan hubungan baik dengan orang lain. Dengan demikian kekayaan alam yang tersedia dapat meningkatkan kulaitas hidup dan kemakmuran rakyat.

Dari segi fakultas amal, intelektual muslim tidak hanya mengajar dan meneliti ilmu untuk ilmu, melainkan untuk merekonstruksi peradaban bangsa. Ia tidak hanya sibuk dengan tugas di kampus sebagai pengajar, peneliti, dan petugas administrasi; namun juga terpanggil untuk menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan kampus; peka terhadap gairah masyarakat kampus untuk menyerap nilai-nilai Islam; dan mereka yang memandang Islam sebagai élan vital dalam perubahan sosial. Seorang intelektual adalah seorang ilmuan yang menaruh perhatian dengan perkembangan budaya bangsanya.

Peran kampus dalam mengembangkan fakultas amal dilakukan dengan melakukan penelitian dan pelayanan. Penelitian dapat dibedakan dalam dua kategori: penelitian yang bersifat proyek dalam arti penelitian yang langsung berhubungan dengan kepentingan kebijakan pemerintah atau kepentingan perusahaan; dan penelitian yang berguna untuk menunjang perkembangan ilmu. Semua hasil penelitian itu berguna dalam membangun perdaban dan kemaslahatan umat.

Bagaimana peran masjid dalam menyiapkan terciptanya intelektual muslim berpredikat ulul albab itu?

Sejarah Islam telah menjadi bukti bahwa masjid menjadi laboratorium sosial yang sukses. Masjid dirancang sebagai sumber kegiatan. Mulai kegiatan peribadatan, kegiatan pendidikan dan pengkajian Islam; kegiatan dakwah hingga promosi budaya bernafas keagamaan (Islam) serta melakukan pelayanan sosial.

Di Masjid pun perlu disediakan ruang perpustakaan. Kita maklumi bahwa ilmu pengetahuan diwariskan lewat buku. Perpustakaan dirancang untuk penelitian yang memungkinan para pembelajar untuk secara langsung dan terus menerus mencapai akumulasi pengetahuan dan dapat mengakses penemuan teori-teori baru yang paling mutakhir dalam bidang keahlian mereka. Karena kemajuan ilmu yang demikian cepat, maka perpustakaan harus berlangganan dan memasukkan jurnal-jurnal terbaru dalam berbagai disiplin ilmu, sehingga perpustakaan selalu relevan bagi penelitian yang baru dan tepat waktu.

Teori-teori ilmu yang dikaji melalui buku dan hasil temuan penelitian terdahulu yang dilaporkan melalui jurnal ilmiah harus diuji di laboratorium. Karena itu selain forum-forum diskusi di masjid, juga mutlak diperlukan laboratorium dengan pelengkapannya yang sophisticated. Sarana dan prasarana tersebut memang mahal, pembelian maupun perawatannya. Akan tetapi, manfaat yang diberikannya pun akan besar dalam hal pengembangan dan penerapan pengatahuan maju dalam menyokong program pembangunan umat. Sebaliknya, ketiadaan sarana dan prasarana tersebut menyebabkan suatu kemacetan serius dalam pendidikan dan penelitian di masa depan.

Masjid dan perpustakaan dalam sejarah keemasan Islam ibarat dua sisi dari satu mata uang. Keduanya berkontribusi dalam mengembangkan model perguruan tinggi berbasis masjid. Perguruan tinggi yang menjalankan misi iman, ilmu, dan amal secara simultan. Perguruan tinggi yang berfungsi sebagai tempat mendidik intelektual muda yang rajin belajar, meneliti, berbagi ilmu dan mengabdi untuk kemanusiaan dan kemajuan peradaban Islam.

Itulah sejatinya tugas pendidikan dalam Islam, yakni mendidik manusia secara utuh. Insan yang sadar akan kedudukannya di hadapan Allah dalam tatanan wujud kosmos. Dalam mencapai tujuan itu, Allah memberikan pedoman dan sumber belajar yang sangat jelas, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami dari segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar.” (Qs. Fushilat [41]: 53)

Sekali lagi, ayat di atas atas menginformasikan tentang adanya tiga realitas dalam basis ontologi pendidikan Islam, yakni: ufuk jagad raya sebagai makrokosmos, jati diri manusia sebagai mikrokosmos, dan al-Qur’an sebagai kalam Allah (baca: metakosmos). Tiga realitas ini merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang memiliki kebenaran yang paralel. Karena itu, untuk menemukan kebenaran secara objektif perlu “korespondensi” antara wahyu ilahi yang tertulis dengan ilmu-ilmu sosial kemanusiaan dan hukum yang berlaku dalam jagad raya. Alqur’an dan alam semesta harus dipahami sebagai hukum Allah yang saling menjelaskan. [fdh]

*) Diolah dari berbagai sumber; **) Dosen Agama Islam, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s