KESADARAN NURANI

Oleh: Hasanudin Z.A.

(Institut Teknologi Bandung)

Kita semua mengikuti apa yang terjadi di indonesia saat ini, di dalam dunia politik,  pemerintahan. Kadang-kadang kita bertanya-tanya apakah masih ada kesadaran nurani (conciouness) di antara para pejabat kita dan anggota DPR kita. Nampak nilai-nilai yang terkait dengan sifat kejujuran dan kebenaran semakin lama ini semakin ambigu, kita tidak mengetahui mana yang betul mana yang salah. Setiap hari kita melihat di media massa, para wakil rakyat yang sebenarnya harusnya mempunyai kesadaran nurani yang tinggi, punya ‘integrity’ dan ‘conciouness’, karena dia mewakili rakyat, justru yang terjadi hanyalah ocehan-ocehan yang kita tidak tahu betul apa tidaknya.

Lalu bagaimana kita sebagai umat muslim di Indonesia menyikapi hal-hal semacam ini ? Sebenarnya hati pun juga tidak terlalu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tapi marilah kita lihat perspektif Islam menghadapi hal-hal semacam ini. Coba kita tengok ke belakang, banyak ekali di dalam sejarah bangsa Indonesia sendiri maupun di dalam sejarah keislaman, contoh-contoh pribadi yg punya kesadaran nurani (conciousness) yg tinggi, yang kadang-kadang kita bertanya “kenapa mereka punya seperti itu, kenapa yang lain tidak?”.

Ambil saja misalnya Bung Hatta, ketika beliau menjadi wakil Presiden Republik Indonesia, pada saat itu ada kebijakan yang dinamakan kebijakan sinering, kebijakan untuk mendoktrin nilai rupiah dari yang asalnya Rp. 1000 menjadi Rp. 1. Tentunya sebagai wakil presiden, beliau sudah tahu sebelumnya kebijakan ini akan dilaksanakan.  Tetapi pada saat yang sama istri beliau, ibu Rahmi Hatta, itu juga sedang mengumpulkan uang untuk membeli mesin jahit. Sebenarnya Bung Hatta pun tahu, dan pada saat itu belum ada lembaga seperti KPK belum ada BPKP , Jadi seandainya pun Bung Hatta memberi tahu kepada istrinya sebelum kebijakan ini diterapkan sebenarnya tidak salah-salah amat kalau menurut perhitungan atau logika saat ini karena beliau hanya memberi tahu agar istrinya kalau mau beli mesin, beli sekarang, karena nanti atau minggu kedepan harganya menjadi Rp.1. Tetapi Bung Hatta sebagai wakil presiden tidak mengatakan apa-apa sama sekali, tidak menginformasikan pada istrinya. Sehingga pada saat kebijakan itu dilaksanakan uang Rahmi Hatta tidak cukup untuk membeli mesin jahit. Tentunya sebagai seorang wanita, istri beliau protes mengapa dia tidak diberitahu. Tapi jawabannya ini yang menarik, Bung Hatta mengatakan, “Kamu itu adalah rakyat, seperti rakyat lain di luar. Mereka tidak tahu, kenapa kamu harus tahu”.

Khatib coba membayangkan kalau menjadi wakil presiden pada saat itu, apakah mampu menjaga amanah semacam itu. Lihat, kesadaran nurani apa yang dipunyai oleh Bung Hatta, tidak ada KPK yang akan memeriksa dan keadaan iklim pada saat itu beliau pun tidak akan dipermasalahkan. Hanya memberitahu bahwa istrinya membeli mesin jahit sebelumnya, tidak ada yang salah. Tetapi conciousness Bung Hatta ini, kesadaran nuraninya itu tinggi. Ini menarik karena beliau bisa pada saat itu, tapi mengapa para pemimpin sekarang tidak  bisa ? Tentunya kita harapkan masih ada pemimpin yang semacam itu, tetapi ini contoh saja bahwa Bung Hatta itu bisa.

Kemudian di zaman khalifah Umar bin Khattab, kita tahu juga ada sebuah cerita yang menarik. Beliau ini sebagai khalifah suka melakukan sidak. Beliau menyamar malam hari keliling-keliling kota Madinah untuk mengamati apa yang terjadi di lingkungan masyarakatnya, biasanya beliau bersama seorang hadamnya atau pembantunya. Suatu malam khalifah Umar bin Khattab dan hadamnya ini jalan-jalan ke kota Madinah. Di suatu rumah yang masih sederhana yang dihuni seorang janda dan anak perempuannya, mungkin mereka itu penjual susu, pembicaraannya terdengar keluar. Ibunya mengatakan “susunya kita campurkan saja dengan air sehingga lebih banyak, agar untung kita lebih besar”. Tapi anak perempuannya mengatakan bahwa khalifah Umar melarang hal seperti itu karena khalifah Umar ini cukup ketat dalam menerapkan nilai-nilai kebenaran. Lalu ibunya mngatakan bahwa tidak apa-apa karena khalifah Umar tidak ada di sini, lalu anak perempuannya menjawab bahwa mungkin khalifah Umar tidak mendengar, tetapi bukankah Allah Swt melihat kita.

Khalifah Umar begitu terkesan dengan anak wanita itu, sehingga beliau berniat menikahkan anak perempuan ini dengan anaknya Hasyim bin Umar. Kemudian dari perkawinan Hasyim dengan wanita yang mempunyai kesadaran nurani yang tinggi itu lalu lahir seorang putri yang kemudian dinikahi oleh Abdul Aziz bin Marwan dari khalifah Bani Umayyah, kemudian dari pernikahan itu lahir Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Kita tidak bisa menarik korelasi bahwa karena nenek buyutnya mempunyai kesadaran nurani yang tinggi melahirkan khalifah Umr bin Abdul Aziz yang kita tahu integritasnya sangat tinggi. Disini kita hanya ingin mengatakan bahwa kesadaran yang tinggi itu dapat bermuara pada hal yang baik.

Kadang-kadang memang antara sesama muslim pun ada perbedaan dalam conciouness atau kesadaran nurani, ada perbedaan pendapat dalam menegakkan kesadaran tinggi tersebut. Ada seorang penyair dari Persia bernama Sa’di. Suatu hari penyair ini sholat d mesjid Umayyah Damaskus, begitu dia keluar sandalnya hilang, kemudian dia menggerutu. Dia keliling-keliling mesjid untuk mencarinya karena mungkin dia pikir ada yang meminjam lalu disimpan di tempat lain. Pada saat dia berkeliling-keliling, di salah satu pojok mesjid ada seorang alim ulama yang sedang punya forum ta’lim bersama para pengikutnya, dan yang paling membuat dia terkejut karena Kyai atau Ustad ini kakinya sudah tidak ada lagi. Melihat ulama tersebut tidak memiliki kaki, Sa’di sadar, dia berpikir bahwa dia masih punya kaki kehilangan sendal saja sudah menggerutu semacam ini, sudah sumpah sana sumpah sini, bahkan sampai sumpah serapah. Sementara ada orang yang kakinya hilang dia masih  tersenyum dan masih mengajarkan orang lain ilmu. Jadi memang kesadaran nurani yang dimiliki Sa’di ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan alim ulama yang kakinya sudah hilang tadi.

Pernah suatu ketika Rasulullah saw berjanji dengan seseorang, dia tunggu di suatu persimpangan, hari pertama tidak muncul hari kedua dia tunggu disitu orangnya tidak muncul juga, sampai hari ketiga Rasulullah masih di sana juga, tentunya malam hari mungkin pulang dulu tetapi paginya ditunggu. Kemudian sahabat yang ditunggu ini itu ingat bahwa tiga hari yang lalu dia ada janji dengan Rasulullah saw. Dia pun bergegas pergi ke tempat itu dan ternyata Rasulullah saw. masih ada di tempat tersebut. Rasulullah tidak marah, tapi hanya berkata “Ya Akhi, kamu menyulitkan saya”. Hanya itu saja, tapi bila kita lihat Rasulullah ini mempunyai rasa kesadaran nurani yang sangat tinggi, kita ‘no doubt’ karena beliau adalah Rasulullah saw.

Cerita-cerita semacam itu banyak sekali kita jumpai, sehingga memang kita tidak perlu pesimis bahwa kita pun insya Allah bisa memilikinya. Jadi, kesadaran nurani yang tinggi ini, sebenarnya apakah sesuatu yang sifatnya inheren atau memang harus kita pelajari ?

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa manusia ini sebenarnya ciptaan Allah swt yang paling mulia dan canggih, tidak bisa ditiru. Beliau mengatakan bahwa manusia ini adalah kombinasi antara makhluk langit yaitu ruh yang ditiupkan dalam tubuh manusia dan jasad seperti yang ada pada Q.S. Al-Hijr : 29, “Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ruh ke dalam ciptaanku maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”. Manusia itu kombinasi dari alam ruh dan alam jasad. Raga kita ini hanya perkakas, begitu raga ini rusak terkena penyakit kemudian meninggal, jasad dikuburkan, ruh kita kembali menghadap Allah swt. Tetapi, menyadari itu tentunya kesehatan ruh sangat penting juga. Imam Al-Ghazali membagi ada ruh, ada jiwa, ada qolbu dan ada aql.

Kita sering pergi ke fitnes membuat raga kita sehat, kita tidak mau memakan makanan yang berlemak, tidak mau kolesterol tinggi, olahraga, dan seterusnya. Raga kita perhatikan sekali, tapi bagaimana dengan ruhani kita? Nabi Muhammad saw dan Abu Jahal mungkin dari egi raga Abu Jahal bisa lebih tinggi lebih besar anaknya lebih banyak, tapi dari segi rohani jangan bandingkan tentunya, tapi secara ragawi mungkin bisa saja Abu Jahal lebih kuat, tapi kita tahu kualitas ruhaninya. Kesehatan ruhani itu sama pentingnya. Imam Al-Ghazali mengatakan ada yang membedakan ruh dan jiwa, kalau ruh itu sesuatu yang datangnya dari Allah dan ia cenderung pada kebenaran jadi, jalan menuju Allah itu yaitu ruh, ruh kita selalu tunduk kepada Allah swt. Tetapi, jiwa itu bisa macam-macam, ada yang muthmainah, ada yang tercela. Hadist Rasul mengatakan jika kita sering berbuat dosa lama-lama jiwa hati kita akan bertambah hitam dan gelap sehingga ruh kita akan susah langsung menuju Allah, kesadaran kita akan Tuhan ini akan menjadi sempit.

Karena itu kita perlu diingatkan bahwa kita harus mulai sekarang, jangan hanya memperhatikan raga, kita punya ruh yang tunduk pada Allah swt. kita memiliki jiwa, ada nafsu kearah kejelekan, ada nafsu syahwat, nafsu kekuasaan dan seterusnya. Kita juga memiliki akal yang membedakan kita dengan binatang. Akal itu harus dituntun oleh nurani. Kita bisa jadi Professor, Doktor, mengajar, menulis paper dan segala macam, tapi jika semua itu tidak dalam rangka conciousness untuk sesuatu yang lebih mulia lantas apa manfaatnya itu semua. Bukankah Rasulullah saw mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain, ini artinya conciouness.

Conciousness integrity di bangsa ini khawatir mulai hilang. Orang lebih banyak memperhatikan raga, kinerja, performance tapi melupakan ruhani, qalbu, dan nafs. Harusnya raga, akal, qalbu, nafs dan ruh itu harmoni satu kesatuan.

Sebagai manusia tentunya kita sering melakukan kesalahan, terkadang nafsu menguasai akal pikiran kita. Kadang-kadang kita tidak memelihara ruhani kita secara baik. Tetapi, Allah swt mengingatkan kita bahwa hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram “Alaa bidzikrillahi tathma’inul quluub”.

Sebenarnya jika kita mempunyai masalah tanyalah pada hati nurani mintalah fatwa pada hati nurani itu adalah H.R. Ahmad karena kebenaran itu adalah hati nurani. Misalnya ada proyek benar atau tidak, disuruh tandatangan tapi tidak kerja, dapat uang langsung uangnya dari mana, harusnya itu mengganggu kita.

Cara untuk bertanya pada hati nurani kita yang terbaik adalah jika kita melakuakan suatu hal tanya pada nurani kita, apakah kita malu jika perbuatan ini diketahui orang lain atau tidak?, Jika tidak itu berarti perbuatan kita salah begitupun sebaliknya. Kita selingkuh, kita tidak ingin diketahui oleh orang banyak, kita tidak ingin anak istri kita tahu itu berarti merupakan hal yang salah. Atau kita korupsi, kita tidak mengakui melakukan pembelan pembenaran segala macam, sebenarnya ruh kita itu mengetahui bahwa hal itu salah. Kita bisa merasa benar ketika di hadapan orang lain, tetapi sebenarnya ruh kita menangis. Ini yang dinamakan bahwa kita tidak mempunyai conciousness integrity.

Jadi, sebagai seorang muslim kita diperintahkan oleh Allah swt untuk senantiasa bertanya pada hati nurani. Rasulullah saw. mengatakan “Apabila Allah mencintai seorang hamba dia menjadikan dirinya pemberi nasehat dari jiwanya, dan pilihan dari hatinya yang memerintahkannya atau melarangnya”. Kalau Allah mencintai seorang hamba maka hatinya akan dibersihkan. Berbahagialah orang-orang yang memiliki hati yang bersih. Semoga Allah SWT. menganugerahi kita semua dengan hati nurani yang berih

Karena itu sesungguhnya problem dunia di dunia moderen saat ini adalah spiritual illness, karena ragawi itu lebih dipentingkan, hedonisme dipentingkan, hal-hal yang bersifat material dipentingkan mobil harus mewah, rumah mewah, istri harus cantik atau kalau bisa lebih dari satu dan gaji harus besar, kalau kecil ribut semua, lalu nurani ditinggalkan di belakang.Jadi telah terjadi piritual illness, piritual crisis dan hal ini terjadi di Indonesia.

Datuk Ibrahim mengatakan ‘habit of the heart’ itu tidak diikuti bahkan hilang, hati itu menyukai sesuatu yang indah dan benar, tapi ada konflik antara raga dan ruh, saling tarik menarik sehingga seringkali ragalah yang menguasai. Kita sebagai seorang muslim telah diajarkan bahwa jika kita terjerumus melakukan kesalahan atau dosa maka bertaubatlah, istighfar dan jangan lakukan lagi. Kesadaran nurani ini harus dibiasakan, dalam pendidikan anak usia dini sampai perguruan tinggi mulai mempelajari ‘the habit of heart’ dengan kesadaran.

Menurut Prof. Maksud Jufry seorang pemikir Pakistan, hati nurani kita yang ditiupkan oleh Tuhan itu sebenarnya punya jalur. Di dalam orang sekejam apapun ada ruh yang selalu rindu menuju Allah, ruh yang selalu ingin kembali ke jalan yang benar. Orang yang kesadaran nuraninya terus tumbuh itu sebenarnya dia itu selalu terhubung kepada Allah. Ruhaniah kita terus hidup bisa dikatakan baterainya full. Banyak orang yang jika baterai handphonenya atau laptopnya habis kalang kabut, tetapi ketika baterai ruhaninya habis mereka tidak peduli. Naudzubillahimindzalik. Semoga kita tidak diberi musibah semacam itu

Marilah kita tundukkan jiwa kita yang mungkin banyak tercemar, marilah mulai saat ini kita tingkatkan kesadaran nurani dengan berbagai cara, dengan sering berdzikir, sering berderma sering membantu orang, itu adalah mekanisme cara kita agar kita lebih dekat dengan Allah swt, agar Allah tidak meninggalkan kita, jika Allah udah meninggalkan kita apa yang bisa kita perjuangkan lagi. Ditinggalkan harta, jabatan dan istri itu biasa, tapi kalau sudah ditinggalkan oleh Allah swt, hati kita semakin lama semakin hitam, dan Allah SWT semakin lama semakin meninggalkan dan jika pada saat itu kita dip.anggil menghadap Allah swt, maka pada saat itu kita dalam keadaan su’ul khotimah.

Kita sebagai makhluk yang banyak berdosa hanya bisa berdoa, semoga dosa-dosa itu tidak dibukakan di hadapan orang lain apalagi di Padang Mahsyar, semua keturunan kita mengetahuinya mau ditaruh di mana muka kita. Oleh karena itu, kesadaran nurani ini harus kita perjuangkan walaupun harus dibayar dengan harga besar, misalnya kita menjadi susah kaya dan lama miskinnya tapi sebenarnya kesadaran nurani itu menjadi lebih penting dibandingkan apapun.

*) Diambil dari Khutbah Jum’at di Masjid Salman ITB; **) Guru Besar Institut Teknologi Bandung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s