PRIBADI MUSLIM SEJATI

Oleh: M.S. Soelaeman

(Masjid Nuurul Irfaan, Universitas Negeri Jakarta)

 

”Senantiasa bertasbih kepada  Allah. Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja Maha Suci, Maha Perkasa dan Maha Bijaksana”  ( QS. Al-Jumu’ah: 1)

 

Hadirin sidang Jum’at yang saya hormati.

Pada tahun 1971, seorang pemuda berkebangsaan Iran, bernama Syahid Abbas Baba’i, mengikuti sekolah penerbangan terkemuka di Amerika Serikat, selama dua tahun. Sesuai dengan peraturan sekolah, bahwa semua mahasiswa asing diwajibkan tidur sekamar dengan seorang mahasiswa Amerika, selama dua bulan penuh. Demikian juga Syahid Abbas, dia mendapat seorang teman Amerika, sebagai pendamping di kamar tidurnya.

Di kalangan teman-temannya di Iran, Syahid Abbas Baba’i dikenal sebagai  seorang pemuda yang sangat taat beribadah sejak usia remaja. Yang paling menonjol adalah  dia selalu mendirikan shalat tepat pada waktunya, rajin pula melakukan shalat sunnah tahajud di tengah malam.

Pada suatu hari Syahid Abbas berkata kepada teman-teman remajanya : ”Setelah adzan subuh dikumandangkan, dan setelah mengambil air wudlu, menghadaplah ke arah kiblat, dan memohonlah kepada Tuhan: ”yaa Allah, letakkanlah tangan-Mu di atas kepalaku, sampai esok pagi”. Ketika ditanya mengapa, dia menjawab : ”Ketika kita berdiri untuk shalat, saat itu rahmat Allah turun dari langit. Jadi apabila tangan Tuhan menyentuh kepala kita, sampai kapanpun tidak mungkin setan membawa kita ke jalan yang sesat”.

Tentu saja ketaatan beribadah ini lebih ditingkatkan lagi di Amerika, tempat yang sangat jauh dari kampung halamannya. Oleh karena itu, di kamar tidurnya, pada saat-saat tertentu di tengah malam, tampak dia bersujud atau duduk khusyu di atas sajadah dengan suara lirih, berdoa sambil berlinangan air mata. Dia pegang teguh perintah Allah swt.  tentang shalat dalam QS An Nissaa : 103, yang artinya lebih kurang :

”Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman”

Suatu saat dia berkata serius kepada teman-temannya : ” Kalau kita benar-benar disiplin mendirikan shalat tepat waktu, insya Allah, suatu saat nanti,  shalat akan menyelamatkan kita dari kesulitan. Cobalah buktikan sendiri”, katanya. Ruku’ adalah etika penghambaan diri dan sujud adalah etika berserah diri  kepada Allah swt. Inilah detik-detik yang paling sakral dalam shalat, katanya. Pesan Rasulullah tentang shalat sangat melekat kuat di hatinya.  Rasulullah saw. bersabda:

”Sesungguhnya kewajiban pertama yang diperintahkan Allah swt  kepada hamba-hambaNya adalah shalat dan akhir kewajiban yang tak akan gugur hingga seseorang berada di ambang kematian adalah shalat”.

Namun sayangnya di sisi lain,  Syahid Abbas sangat membatasi diri dalam kegiatan-kegiatan yang menurut dirinya  tidak produkktif seperti yang dilakukan oleh rekan-rekannya, misalnya pesta-pesta, belanja. Dia benar-benar memfokuskan diri pada pelajaran sekolah dan ibadah. Akibatnya, dalam bidang akademik dan menerbangkan pesawat terbang, dia berhasil menjadi salah satu siswa  terbaik, tetapi dalam bidang pertemanan dia gagal.

Diam-diam  teman Amerika sekamarnya merasa tidak ”nyambung”  dengan perilaku  kurang pergaulan Syahid Abbas tersebut. Apalagi teman ”bule”nya ini sama sekali tidak faham tentang peribadatan umat Islam. Akhirnya ia merasa resah karena setiap subuh dan hampir setiap tengah malam melihat ”perilaku aneh” dari Syahid Abbas tersebut.

Dua tahun telah berlalu. Teman-teman seangkatannya sudah memperoleh Sertifikat Kelulusan. Tapi status Syahid Abbas Baba’i tidak jelas, padahal dia  berhasil meraih predikat salah satu siswa terbaik. Syahid  menduga bahwa hal ini terjadi bukan karena alasan-alasan akademis. Oleh karena itu, dia mencari waktu untuk bertemu dengan direktur sekolahnya.

Akhirnya saat-saat yang menentukan pun tiba. Syahid Abbas dipanggil pimpinan tertinggi sekolah itu, seorang Jendral Angkatan Udara, yang akan menentukan hitam- putih nasibnya.  Setelah bersalaman dan mempersilakan duduk, sang Jendral itu membolak-balik file, catatan khusus tentang Syahid. Mempelajarinya dengan seksama, sambil sesekali menatap Syahid Abbas dengan pandangan yang dingin. Lalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang isinya tidak mempunyai pandangan yang baik tentang dirinya.

Dilihat dari isi pertanyaan-pertanyaan tersebut, Syahid Abbas  mulai  merasa, bahwa perjuangan dan  jerih payah  selama 2 tahun telah sia-sia, Hatinya hancur, karena cita-citanya kandas di ujung  jalan.  Besok dia harus pulang kembali ke Iran dengan tangan hampa. Hatinya menangis, memohon ampun dan pertolongan Allah swt., sambil tetap bersabar dan tawakal, karena dia teringat firman Allah swt. dalam QS Al Baqarah : 153

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan(kepada Allah) dengan sabar dan shalat”

Tiba-tiba seorang staff mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan. Ada seorang tamu penting yang memaksa sang Jendral ke luar ruangan untuk menemuinya. Sepeninggal sang Jendral, Syahid Abbas melihat jam di dinding, ternyata waktu dzuhur telah tiba. Dia mengambil air wudlu, mengambil kertas koran lalu memilih tempat yang nyaman disudut ruangan agar bisa mendirikan shalat dan berdo’a dengan khusyu.

Ketika sang Jendral masuk ruangan, Syahid Abbas sedang bersujud sambil berlinang air mata. Setelah mengucap salam,  lalu berdoa dengan suara lirih, mengucap puji syukur, memohon ampunan dan pertolongan. Sambil mengusap air mata, ia meminta maaf kepada sang Jendral dengan penuh rasa hormat, kemudian  duduk di hadapannya.

Sang Jendral menanyakan tentang yang barusan dia kerjakan. Lalu dijelaskan secara singkat tentang tata cara beribadah umat Islam. Sang Jendral tampak merasa puas, menarik nafas panjang, sambil mengangguk pelan dia mulai tersenyum. Lalu berkata :

”Rupanya inilah yang tercantum dalam file Anda. Di sini ditulis, bahwa Anda sering menyendiri,  berdiri lalu duduk di sudut kamar sambil mengucapkan kata-kata yang tidak jelas. Juga seringkali menangis tanpa alasan yang jelas.  Singkatnya anda adalah orang yang tidak normal. Sekarang saya faham,  ternyata kejadiannya tidak seperti itu.

Dengan wajah berseri-seri sang Jendral mengambil pulpen dan membubuhkan tanda tangan pada file Syahid Abbas. Dengan penuh rasa hormat kemudian berdiri lalu menjabat tangan Syahid Abbas Baba’i dan berkata :  ”Saya ucapkan selamat kepada Anda. Anda telah lulus”. Usai pertemuan itu segera Syahid Abbas mencari ruangan, untuk melakukan sujud syukur kepada Allah swt.

Syahid Abbas teringat akan ucapannya kepada teman-temannya ketika remaja : ”Kalau kita benar-benar disiplin mendirikan shalat tepat waktu, insya Allah, suatu saat nanti,  shalat akan menyelamatkan kita dari kesulitan. Coba buktikan sendiri”, katanya.

Dalam perang Iran–Irak pada awal tahun 80-an, Syahid Abbas Baba’i menjadi pilot pesawat tempur.  Ketika musim ibadah haji tiba, teman-teman dan keluarganya meminta agar Syahid Abbas menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah haji tahun itu. Syahid Abbas menyanggupinya. Ia berjanji akan menyusul keluarganya untuk bertemu tepat di hari ’Idul Adha di Tanah Suci di kota Mekah.

Ia menepati janjinya. Tepat pada Hari ’Idul Adha, pesawat tempurnya tertembak jatuh. Syahid Abbas Baba’i gugur syahid secara sempurna  di medan laga. Kisah hidupnya  akan terus dikenang sebagai Pribadi Muslim Sejati.

*) Diolah dari berbagai sumber;  **) Dewan Penasehat Masjid Nuurul Irfaan, Universitas Negeri Jakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s