SYUKUR

oleh: Hermawan K. Dipojono

(Masjid Salman ITB)

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (al-Ahzab[33]: 21)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati” (Al-Baqarah[2]: 277)

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, ”Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, ”Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, ”(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim”. (Al-Baqarah[2]: 124)

Dalam setiap peristiwa wisuda sarjana, magister maupun doctor yang dilakukan oleh suatu perguruan tinggi, banyak harapan tertumpu dipundak mereka yang diwisuda, baik dari keluarga maupun masyarakat  (yang wajar berharap karena pendidikan mereka mendapat subsidi dari dana masyarakat, dana pajak maupun berbagai sumbangan lainnya). Setiap warga negara mengharapkan agar hari esok jauh lebih baik dari hari ini; kehidupan pribadi maupun masyarakatnya menjadi lebih sejahtera, jasmani maupun ruhani. Kehidupan yang lebih makmur dan sejahtera merupakan kehidupan yang harus ditengok ke atas oleh sebagian besar warga dari bangsa ini. Kehidupan seperti itu berada di posisi yang tinggi, perlu jalan mendaki lagi sulit untuk mencapainya. Salah satu yang diyakini oleh sebagian besar anggota masyarakat di dunia adalah bahwa pendidikan merupakan tangga yang dapat digunakan untuk naik ke atas, ke kehidupan yang lebih sejahtera, lebih bermartabat. Terlebih di jaman atau era yang dikatakan sebagai berbasis pengetahuan (knowledge based society) maka orang atau kelompok orang yang mempunyai, menguasai, dapat menggunakan pengetahuan akan mempunyai nilai tawar lebih dibanding mereka yang tidak demikian.

Oleh karena itu dengan nalar yang sehat dapat dimengerti bahwa mereka yang dapat menyelesaikan pendidikan terminal, pendidikan tertinggi, yaitu di perguruan tinggi, sungguh telah memperoleh anugerah yang besar dari Allah SWT. Kita ucapkan selamat kepada para sarjana, magister dan doktor tersebut. Selamat jalan di padang amal sholeh yang lebih luas, untuk berkarya bagi kemaslahatan diri, keluarga, dan ummat. Bagi yang masih akan menyusul, para mahasiswa, semoga pula dapat mengikuti jejak para pendahulunya, dapat menuntaskan pendidikannya di kampus ini. Kesemuanya itu mungkin dimaksudkan untuk menggapai cita-cita, impian yang tinggi, keinginan ambisius. Suatu hasrat atau keinginan yang tidak salah. Hasrat untuk hidup lebih baik, dengan kekayaan dan status sosial yang membanggakan sudah barang tentu merupakan hal yang baik dan dapat dibenarkan. Cita-cita yang ambisius, yang tinggi, yang jika diukur dengan keadaan saat ini nampak sebagai sesuatu yang musykil juga bukan merupakan barang haram. Bahkan agama mengajarkan untuk hidup dengan hasrat dan keinginan yang dapat dikatagorikan sebagai sangat ambisius.

Apakah ada sesuatu yang lebih ambisius dibanding ingin masuk surga? Doa yang paling dihafal oleh umat Islam adalah doa sapu jagat, sebuah doa yang menanamkan keharusan bercita-cita yang sangat ambisus: sejahtera di dunia, sejahtera di akherat, dan dijauhkan dari azab neraka alias masuk surga. Sungguh itu merupakan sebuah hasrat atau cita-cita yang sangat ambisius. Allah swt sendiri yang mengajarkan doa itu dan bahkan lebih dari itu Allah swt juga melengkapi manusia dengan potensi, fasilitas, dan petunjuk alias manual agar hal itu dapat dicapai.

Ada dua hal penting mengenai ambisi manusiawi ini. Pertama hendaknya ambisi itu digapai secara bermartabat, dengan dignity. Secara bermartabat sebagai hamba Allah, bukan hamba syaithon. Syarat perlu untuk dapat bermartabat adalah kejujuran untuk mengakui, mengamalkan, membuktikan bahwa dirinya adalah makhluq dan hamba Allah swt. Ini merupakan sebuah kejujuran absolut yang akan menyinari dan membimbing perjalanan menggapai ambisi dengan benar dan berada di jalan yang lurus, jalan para Rasul Allah. Bahwa sebelum Baginda Muhammad saw diangkat menjadi Nabi dan Rasul telah dibentuk oleh Allah SWT sebagai pribadi yang dapat dipercaya, yang dibangun di atas nilai dan karakter kejujuran, menunjukkan betapa luar biasa pentingnya nilai kejujuran ini. Nilai ini nampaknya merupakan suatu syarat perlu bagi seseorang yang akan memikul tugas besar dan berat: tugas kenabian dan kerasulan. Dan tentunya juga bagi siapapun yang merasa menjadi bagian dari ummatnya. Kepada para alumni ITB, yang baru saja atau akan diwisuda, silahkan bercita-cita setinggi mungkin, menjadi orang terkenal, kaya, berkuasa atau apapun selama di dunia ini namun gapailah itu semua secara bermartabat, dengan senantiasa menyadari bahwa dirimu adalah hamba Allah swt, bukan hamba syaithon, atau hawa nafsu.

Rasulullah SAW di usia yang relatif masih muda, dibawah 25 tahun telah dikenal sebagai seorang professional sejati, yang digapainya secara bermartabat, di atas jalan amanah, jujur, penuh tanggung jawab, di atas norma jalan yang lurus, dengan menggunakan sepenuhnya potensi kecerdasan yang dimilikinya sehingga bahkan ditengah-tengah masyarakat jahiliyyah sekalipun beliau mendapat gelar Al-Aamiin, yang dapat dipercaya, pemegang teguh amanah yang dibebankan kepada beliau. Jujur merupakan salah satu perwujudan iman; ia merupakan wujud keyakinan bahwa Allah Maha Melihat. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang lepas dari penglihatan Allah, baik besar maupun kecil, nyata maupun tersembunyi, di siang maupun malam hari. Namun ia juga merupakan wujud dari keyakinan bahwa Allah Maha Adil; kejujuran walaupun nampaknya merugikan dalam jangka pendek, namun Allah tidak pernah melupakan hamba-hambaNya yang menjalani hidup dengan kejujuran. Jujur kepada Allah, jujur kepada RasulNya, jujur kepada diri sendiri, dan jujur kepada lingkungannya. Jujur untuk mengakui apapun yang bukan miliknya sebagai bukan miliknya sehingga jujur kepada ALlah menyebabkannya tidak berani mengambil apapun yang memang telah dengan jujur diakuinya sebagai milik orang lain.

Alangkah nikmatnya hidup dilingkungan yang dibangun atas kejujuran ini. Hati tidak pernah merasa kawatir dan was-was; barang-barang yang tercecer atau terlupa dapat dengan sendirinya kembali lagi. Kejujuran melahirkan masyarakat yang tentram karena tidak ada yang kawatir untuk dirugikan oleh orang lain dan sedikitpun juga tidak ada niat untuk merugikan orang lain. Kejujuran nampaknya juga menjadi ciri kecanggihan, kemajuan, dan keadaban suatu masyarakat atau bangsa; semakin maju suatu bangsa, nampaknya semakin jujur tatanannya atau sekurang-kurangnya semakin mendapat perhatian pentingnya nilai kejujuran itu. Pada dasarnya memang tidak mungkin sains dan teknologidibangun tanpa kejujuran. Memang benar kejujuran dan bangsa yang berbasis kejujuran dapat dibangun oleh pribadi atau bangsa yang tidak mengenal Tuhan sekalipun. Manakala mereka mampu mengimajinasikan dan kemudian meyakini bahwa dalam jangkan panjang kejujuran itu akan memberikan manfaat luar biasa bagi diri dan bangsanya; dan meyakini setiap kecurangan akan menghancurkan diri dan masyarakatnya dalam jangka panjang. Kejujuran kemudian menjadi bagian tidak terpisahkan dari harga diri pribadi

setiap anggota masyarakat. Memang menjadi suatu ironi dan tragedi manakala pribadi atau bangsa yang menyatakan diri beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa namun gagal mewujudkan kejujuran sebagai pilar hidup dan kehidupannya. Selama hari ini masih ada dan tersisa kesempatan membangun kejujuran dalam hidup dan kehidupan senantiasa terbuka lebar.

Sebenarnyalah bahwa masyarakat yang dibangun di atas kejujuran bukanlah sebuah utopi atau impian di siang hari bolong. Meruntuhkan kejahiliyyahan bukanlah sebuah hal yang mustahil. Semoga kita dapat mewariskan Indonesia esok hari yang lebih baik dari hari ini. Sesungguhnya Allah tidak pernah tidur dan lelah mengawasi tingkah laku makhluq ciptaanNya yang bernama manusia. Sesungguhnyalah pula bahwa Allah Maha Santun, tidak pernah lupa memberi penghargaan kepada hamba-hambaNya yang berjuang di jalanNya dengan menjalani hidup dengan penuh kejujuran sebagaimana diteladankan oleh RasulNya Muhammad saw. Kepada para mahasiswa, selamat berjuang menggapai cita. Demi Tuhan, bangsa dan almamater, bangunlah karakter, identitas dan harga diri kalian diatas landasan kejujuran. Mari kita bangun Indonesia hari ini dan esok di atas landsan nilai-nilai kejujuran. Semoga dengan demikian ALlah SWT berkenan melimpahkan berkah dan rahmatNya kepada kita semua, aamiin.

Setelah ambisi harus digapai secara bermartabat sebagai hamba Allah SWT, bukan hamba syaithon, adalah menyikapi capaian duniawi. Manakala keinginan atau ambisi di dunia itu dapat dicapainya maka ingatlah bahwa didalamnya terkandung amanah, ada hak orang lain yang harus ditunaikannya. Pelaksanaan hal ini akan lebih mengokohkan keyakinan bahwa dirinya adalah hamba Allah swt, yang dihadirkan untuk memikul tugas dan misi sebagai rahmat bagi alam semesta. Ada kesantunan yang akan terpancar. Manakala ambisi atau keinginan itu tidak atau belum tercapai, setelah melalui usaha maksimal, ia kembalikan semuanya kepada Allah swt, Pemilik dan Penguasa Tunggal Alam Semesta dan seisinya, dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Yang ketiga, pada akhirnya perlu ada kesadaran terus menerus bahwa ujung dari perjalanan di dunia ini akan di akhiri dengan kematian. Silahkan berambisi setinggi mungkin, gapailah semua keinginanmu, nikmatilah semua yang telah engkau capai dengan susah payah, namun ingatlah bahwa kematian pasti datang dan dibalik pintu kematian itu menantimu pertanggungjawaban.

“Ya… Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan anugerahkanlah ketaatan kepadaMu yang akan menyampaikan kami ke dalam surgaMu, anugerahkanlah pula keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah di dunia ini.

Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kapada kami melalui pendengaran, penglihatan dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami.

Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan musibah kami ada dalam urusan agama kami.

Janganlah Engkau jadikan dunia ini adalah cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami. Jangan Engkau jadikan berkuasa atas kami, orang-orang yang tidak mengasihi kami.”

“Ya Allah jangan pernah Engkau tinggalkan dosa kecuali Engkau ampuni. Tidak ada kegalauan kecuali Engkau berikan jalan keluar, tidak ada hutang kecuali Engkau penuhi, dan tidak ada satupun kebutuhan dunia dan akherat kecuali Engkau penuhi, wahai Tuhan seluruh alam.”

*) Diambil dari Khutbah Jum’at di Masjid Salman ITB

**) Guru Besar Institut Teknologi Bandung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s