KINERJA YANG PROFESIONAL

Oleh: Abdul Hakim Halim

(Institut Teknologi Bandung)

Islam adalah hal yang bisa kita lihat sebagai aktifitas fisik. Kita tidak bisa melihat keimanan seseorang, namun kita bisa melihat aktifitas fisik yang merupakan imbas dari keimanan tersebut yang biasa kita sebut Rukun Islam: Syahadat, shalat, zakat, puasa, dan ibadah haji. Rukun Islam tidak akan bisa dipisahkan dari Rukun Iman. Rukun Islam yang dikerjakan tanpa keimanan didalamnya tidak akan menjadi aktifitas yang berarti apapun. Rukun Iman pun tidak akan terbukti jika tidak diimplementasikan dalam aktifitas fisik seperti dalam Rukun Islam. Ihsan adalah suatu cara yang kita lakukan dalam melaksanakan aktifitas fisik, yaitu merasa dilihat oleh Allah dalam menjalankan aktifitas kita. Iman, Islam dan Ihsan adalah tiga hal yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada orang-orang yang telah berjasa untuk bangsa ini, namun nampaknya masih ada yang harus ditingkatkan dalam kinerja kita dan bangsa ini. Jika kita lihat fenomena masyarakat di media massa, media cetak dan sebagainya, sepertinya kita butuh sejumlah orang untuk bisa meningkatkan kinerja setiap lapisan masyarakat. Dialah para intelektual, pejabat, dan mahasiswa yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan masyarakat Indonesia yang lain. Mereka inilah yang mestinya menjadi orang-orang pertama yang merubah paradigma berpikirnya.

Paradigma berpikir yang harus dirubah diantaranya adalah merubah paradigma menerima menjadi memberi. Kebanyakan dari kita melakukan sesuatu karena berharap akan menerima atau mendapatkan sesuatu di akhirnya. Seseorang mencari gelar pendidikan, seseorang mencari jabatan kepemimpinan, banyak diantaranya yang karena mengnginkan sesuatu. Banyak orang yang menuntut mendapatkan sesuatu dari oranglain. Padahal jika kita renungkan lagi, ketika kita memilih untuk menerima, maka kita akan bersaing dengan banyak orang untuk mendapatkannya. Sedangkan jika kita memilih untuk memberi, maka kita tidak akan memiliki saingan karena begitu banyak orang yang akan menerima pemberian kita. Ketika kita memberi, maka kita tidak akan banyak berharap pada orang lain, justru kita akan lebih banyak bergerak untuk melakukan sesuatu kepada orang lain.

Suatu hari datang seorang tamu dari kaum muhajirin kepada Rasul, mengatakan bahwa ia telah lelah. Rasul bertanya pada isterinya tentang sesuatu untuk diberikan kepada tamu tersebut. Tapi ternyata tak ada yang bersisa di rumah Rasul. Kemudian seorang Anshar mengajak tamu tersebut ke rumahnya. Ia bertanya pada isterinya, adakah sesuatu untuk menjamu tamu Rasulullah ini. Ternyata hanya ada sedikit makanan yang telah disisakan untuk makan anaknya. Lalu orang Anshar ini meminta isterinya untuk menidurkan anaknya, dan mematikan lampu kamarnya kemudian memberikan makanan tersebut kepada tamu Rasulullah. Keesokan harinya tamu tersebut menemui Rasulullah dan beliau menyampaikan bahwa Allah sangat mengagumi keluarga Anshar tersebut. Kisah inilah yang kemudian menjadi asbabunnuzul turunnya ayat , “Dan mereka mengutamakan orang-orang muhajirin dari diri mereka sendiri, meski iapun membutuhkannya” inilah gambaran masyarakat ideal yang pernah ada di muka bumi ini. Sikap memberi kepada sesama adalah ciri-ciri orang muslim. Hanyalah keridhoan Allah yang diharapkan atas pemberiannya itu. Maka itulah yang semestinya menjadi patokan bagi kita, memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain, dan hanya mengharapkan balasan dari keridhoan Allah semata.

Paradigma kedua yang mesti diubah adalah saat kita menjalani hidup maka tujuan adalah yang utama dalam proses hidup ini, bukan semata-mata cara. Kebanyakan orang berorientasi pada cara yang akan mereka dapatkan, menjadi pejabat, menjadi sarjana, menjadi  ilmuwan namun mereka lupa untuk apa mereka menjadi itu. Jika kita ingin memotong sebuah kayu dengan golok, maka yang terpenting bukanlah goloknya tapi apakah kayunya bisa terbelah atau tidak. Untuk membuat kayu itu terbelah, tidak mesti selalu menggunakan golok, bisa dengan cara yang lain. Yang terpenting adalah kayu tersebut bisa terbelah. Seringkali kita berbangga telah memiliki sebuah golok, namun kita lupa pada kayu yang semestinya kita belah.

Jangan sampai kita terpaku pada cara, dan ketika cara itu telah kita miliki, kita terlupa pada tujuan utama kita. Kita boleh menjadi sarjana, tapi jangan berhenti sampai disana. Kita boleh menjadi apapun, yang terpenting adalah sebesar apa kebermanfaatan kita untuk orang lain. Ukuran keberhasilan kita bukan pada apa yang telah kita dapat, namun apa yang telah kita lakukan atas apa yang telah kita miliki. Sebesar apa manfaat yang bisa kita berikan pada orang lain. Seperti sabda Rasul, bahwa manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat untuk sekitarnya.

Pada dasarnya, tak ada satupun yang kita lakukan hanya untuk diri kita sendiri. Seorang dosen, mengajar bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk orang lain. Tidak pernah kita mendengar seorang dosen mengajar dirinya sendiri. Seorang pegawai kantor, dia bekerja untuk melayani orang lain. Maka memang hidup kita sesungguhnya adalah untuk memberi pada yang lain. Rasul bersada, “sesungguhnya Allah akan menolong hambanya, selama ia menolong saudaranya.”  Dalam hadits yang lain disebutkan, “Manusia itu tanggungannya Allah. Maka siapapun yang ingin mendapatkan kecintaan dari Allah, maka ia harus memberikan manfaat kepada tangunganNya itu”. Maka, pemberian manfaat kepada orang lain harus menjadi tujuan utama hidup kita, tujuan utama profesi kita. Maka apapun profesi kita, itu hanyalah cara kita untuk menuju tujuan tersebut.

Ketika kita telah memahami bahwa sesungguhnya kita bekerja untuk oranglain, maka selanjutnya kita harus bekerja secara professional. Bekerja secara professional adalah  bekerja sesuai dengan pengetahuan yang kita miliki, bekerja dengan sungguh-sungguh dan dengan kinerja yang terbaik. Bukan sekedar untuk kepuasan pribadi tapi untuk kepuasan orang lain. Bila kita bekerja secara professional, sebetulnya hal tersebut bukan hanya kepentingan profesi kita semata, namun dalam rangka beribadah kepada Allah. Rasul bersabda, “Allah sangat mencintai rang yang jika bekerja, mereka bekerja secara professional.” Tentu kita ingin dicintai oleh Allah. “Jika Aku telah mencintai seorang hamba, maka Aku adalah telinganya yang ia gumakan untuk mendengar, matanya yang ia gunakan untuk melihat, dan tangannya yang digunakan untuk memegang, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika Aku mencintai seorang hamba, maka bila ia meminta kepadaKu pasti Aku akan memberinya. Jika ia memohon pertongan, maka pasti Aku member perlindungan.” Ini adalah sebah gambaran betapa Allah sangat menjaga kehidupan kita.

Maka kemudian yang harus kita lakukan adalah jika kita seorang mahasiswa maka tugas kita adalah belajar dengan professional. Tujuannya tidak sekerdar agar lulus saja, tapi juga agar kita memiliki kemampuan yang tinggi agar bisa bermanfaat sesuai dengan bidang kita masing-masing. Jika kita perhatikan pendidikan Negara kita, saat ini APK (Angka Partisipasi Kasar) baru mencapai 26%, itu berarti baru 26% dari penduduk indonesia yang berusia 19-24 tahun yang bisa belajar di perguruan tinggi. Maka mahasiswa dimanapun itu adalah orang-orang yang dipilih Allah untuk bisa memiliki manfaat lebih dibandingkan yang lain.

*) Diambil dari Khutbah Jum’at di Masjid Salman ITB; **) Guru Besar Institut Teknologi Bandung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s