MEMBENTUK KARAKTER BANGSA MENURUT AL-QUR’AN

Oleh : Nurwahidin

(Universitas Indonesia)

Di dalam agama Islam, melalui sumber ajaran utamanya yaitu Al-Qur’an, masalah karakter bangsa mendapat perhatian serius. Al-Qur’an sebagai kitab suci yang lengkap memuat konsep karakter bangsa yang sesuai dengan fitrah hidup manusia. Konsep karakter bangsa tersebut tentunya memberi harapan bahwa akan tumbuh secara wajar dan secara pasti menuju terbentuknya kepribadian seorang manusia yang beriman dan bertaqwa.

Karakter bangsa merupakan permasalahan yang mendasar dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa. Dalam kehidupan seoarang manusia, masa kanak-kanak merupakan masa peletakan dasar kepribadian yang akan menentukan perkembangan kepribadian dimasa selanjutnya. Masa kanak-kanak, sebagaimana dikatakan oleh John Lock yang dikenal dengan teori tabularasa, adalah masa kehidupan manusia yang masih bersih bagaikan kertas putih bersih yang belum ditulisi. Karena itu, apa yang mau dituliskan pada kertas putih itu, tergantung pada pihak lain terutama orang tua. Di dalam agama Islam juga terdapat hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa anak itu dilahirkan dalam keadaan suci, tergantung orang tuanya yang akan membentuk anak itu selanjutnya, apakah akan dibentuk menjadi orang yang beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Terlepas adanya teori-teori lain seperti teori Naturalisme dan Konvergensi yang berbeda dengan teori Tabularasa, John Lock, tetapi pendidikan di masa kanak-kanak mempunyai peran yang besar untuk memberikan dasar kepribadian pada anak tersebut.

Dewasa ini, kenakalan remaja baik dalam bentuk tawuran pelajar, penggunaan narkoba, dan yang lain, sampai pada tindakan amoral orang dewasa, seperti tawuran antar kampung,  sikap materialistik yang menghalalkan segala cara, dan lain-lainnya, merupakan fenomena sosial yang terjadi setiap saat. Banyak ahli pendidikan yang mencoba menawarkan konsep untuk mencari solusi terhadap permasalahan tersebut, tetapi penyakit sosial tersebut hingga kini belum menunjukan gejala, padahal kondisi masyarakat kini, akan menentukan kondisi masyarakat di masa yang akan datang.

Perhatian para ahli pendidikan pada umumnya masih terkonsentrasi pada pencarian solusi terhadap masalah sosial yang terjadi, dan memperbaiki perilaku menyimpang yang telah terjadi pada umumnya lebih sulit, membutuhkan biaya yang banyak dan waktu yang lama. Sebenarnya para ahli pendidikan yang telah mengemukakan pendapatnya, bahwa untuk mendidik  anak harus dilakukan sejak dini demi terbentuknya karakter bangsa. Karena itu banyak lembaga pendidikan yang secara khusus menangani pendidikan anak sejak dari pendidikan pra sekolah. Akan tetapi pengaruh pendidikan sejak dari pra sekolah tersebut masih sangat kecil. Hal itu setidaknya bila diukur dengan fenomena negatif para remaja kini. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana konsep pendidikan anak /mahasiswa yang berlaku selama ini, sehingga berkarakter?

Dalam perkembangan selanjutnya, terminologi pendidikan lebih dikonsentrasikan pada manusia, sehingga ketika disebutkan kata pendidikan, maka persepsi yang terbayang adalah sekelompok manusia, mengingat manusia adalah makhluk yang diistimewakan oleh Allah baik dalam struktur fisiologisnya maupun psikologisnya, sehingga memungkinkan mereka mengeksploitasi alam atau makhluk lainnya. (Q.S. Al-Isra, 17: 70).

Dengan demikian manusia memiliki persyaratan untuk dididik secara baik, karena manusia mempunyai pendengaran, penglihatan dan hati sanubari, seperti diinformasikan oleh Allah dalam Q.S. Al-Nahl, 16:78. Dalam pada itu, pendidikan juga diistilahkan dengan tadiba.

Pada tingkat operasional, pendidikan dapat dilihat pada praktik yang dilakukan oleh Rasulullah yang antara lain, beliau telah membacakan ayat-ayat Tuhan kepada manusia, membersihkan mereka (dari kemusyrikan) dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (Q.S. Al-Jumu’ah, 62: 2). Kata mensucikan pada ayat tersebut oleh Quraish Shihab, dapat diidentikkan dengan mendidik, sedang mengajar tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam metafisika serta fisika (M. Quraish Shihab, 1992: 172), dengan demikian maka diharapkan akan tercipta masyarakat dan bangsa yang berkarakter.

Tujuan pendidikan menurut surat Al-Qur’an yang dirumuskan oleh Muhammad Natsir dengan berdasar pada surat al-Dzariyah di atas, juga dijadikan patokan oleh M.Quraish Shihab. Namun demikian, bahwa yang dimaksud dengan perkataan ”Menghambakan diri kepada-Ku”  dalam ayat itu mempunyai arti yang sangat dalam dan luas sekali, lebih luas dan dalam dari perkataan itu sendiri yang diucapkan dan dipakai setiap hari. Memperhambakan diri kepada Allah itu mencakup semua ketaatan dan ketundukan kepada semua perintah Ilahi, yang membawa kebesaran dunia dan kemenangan akhirat, serta menjauhkan diri dari segala larangan-larangan yang menghalang-halangi tercapainya kemenangan dunia dan akhirat itu. (M. Natsir, 1973: 83)

Dengan demikian, menghambakan diri kepada Allah juga berpengaruh pada timbulnya akhlak yang mulia. Itulah sebabnya rumusan lain dari tujuan pendidikan sebagaimana dikemukakan oleh Athiyah al-Abrasyi adalah mendidik akhlak dan jiwa anak didik, menanamkan rasa fadhilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk kehidupan yang suci seluruhnya,  ikhlas dan jujur. Dengan dasar ini, maka tujuan pokok dan terutama dari pendidikan anak dalam Islam ialah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa. Athiyah lebih lanjut menghimbau agar semua mata pelajaran harus mengandung nilai-nilai akhlak, setiap pendidik haruslah memikirkan akhlak keagamaan sebelum yang lain-lainnya, karena akhlak mulia adalah tiang dari pendidikan Islam. (Moh. Athiyah Abrosyi, 1971: 24).

Sebagaimana uraian di atas, Hasan Langgulung mengemukakan bahwa berbicara tentang tujuan pendidikan (anak) tak dapat tidak mengajak kita berbicara tentang tujuan hidup manusia. Rumusan ini didasarkan pada suatu prinsip bahwa pendidikan hanyalah suatu  alat yang digunakan oleh manusia untuk dapat memelihara kelanjutan hidupnya (survive), baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. (Hasan Langgulung, 1987: 305). Dengan demikian akan terbentuk bangsa yang berkarakter.

Dengan bersandar pada surat al-Dzariyat ayat 56 dengan berbagai tafsirannya di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan (anak) dalam Islam adalah beribadah kepada Allah dalam arti seluas-luasnya dan tercermin dalam akhlak mulia dalam berbagai aktifitas kehidupan.

Secara garis besar materi pendidikan anak yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad umumnya mengacu pada firman Allah ayat 13-19 dalam surat Luqman, dan hal ini pula yang akan membentuk nanti bangsa yang berkarakter. Di sinilah akan kami sarikan   sebagai berikut,

Dan (ingatlah) ketika Luqman berpetuah kepada anaknya, “Hai anakku: janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kezaliman yang besar (13), dan kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua ibu-bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan letih dan payah. Dan menyapihmya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu, kepada-Ku-lah kamu akan kembali (14), dan jika keduanya berusaha untuk mempersekutukan Aku dengan apa saja yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu (bahwa sekutu itu layak disembah), maka janganlah kamu patuhi (ajakan mereka). Dan bergaullah dengan keduanyadi dunia ini dengan cara yang baik (dan sopan). Dan turutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian kepada Aku kamu akan kembali. Dan akan Aku berikan kepadamu apa yang kamu lakukan (15), (Luqman bertuah), “Hai anakku! Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) walaupun sebesar biji sawi (atom) tersembunyi dalam batu (gua), di ruang angkasa atau di bumi,  niscaya akan diperhitungkan Allah. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui (16). Hai anakku! Dirikanlah shalat, suruhlah (orang) berbuat baik, laranglah perbuatan yang mungkar dan sabarlah mengahadapi musibah yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu masuk perintah-perintah Allah (17). Dan janganlah engkau congkak terhadap manusia. Dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong membanggakan diri (18). Berjalanlah dengan wajar. Berbicaralah dengan lembut ! Sesungguhnya suara yang amat buruk ialah suara himar (19).

Dari ayat di atas dapat dikemukakan bahwa materi pendidikan anak yang dicontoh oleh Nabi Muhammad(dalam rangka membentuk karakter bangsa adalah meliputi  meliputi:

  1. Pendidikan tauhid, yaitu menanamkan keimanan kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Allah adalah satu-satunya yang harus disembah dan sesembahan selain Allah adalah salah dan itu adalah perbuatan syirik dan syirik adala dosa besar.
  2. Pendidikan shalat atau ibadah.
  3. Pendidikan adab sopan santun dalam keluarga.
  4. Pendidikan adab sopan santun dalam bermasyarakat (kehidupan sosial).
  5. Pendidikan kepribadian.
  6. Pendidikan pertahanan dan keamanan dalam dakwah Islam.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep pendidikan anak menurut al-Qur’an diarahkan pada upaya menolong anak didik agar dapat melaksanakan fungsinya mengabdi kepada Allah. Seluruh potensi yang dimiliki anak didik, yaitu potensi intelektual, jiwa dan jasmani harus dibina secara terpadu dalam keselarasan, keserasian dan keseimbangan yang tergambar dalam sosok manusia seutuhnya (insan kamil).  Sehingga dengan demikian insya Allah akan terbentuk bangsa yang berkarakter .  Hal ini harus pula berimplikasi terhadap materi, metode dan lain-lain yang berhubungan dengannya, sehingga membentuk suatu sistem pendidikan yang menyeluruh. Menyatu dan sempurna (komprehensif dan integratif).

Diskripsi pendidikan anak yang diberikan oleh al-Qur’an nampak memperlihatkan sosok yang komprehensif, mulai dari aspek-aspek tujuan, materi, metode, evaluasi dan seterusnya. Namun demikian pada semua aspek pendidikan itu, al-Qur’an nampak lebih memposisikan dirinya sebagai pemandu dalam prinsip dan tidak memasuki kawasan yang lebih bersifat teknis. Mengenai bagaimana tujuan yang dirumuskan, meteri disusun, guru-guru dilatih termasuk orang tua (ibu-bapak), demikian juga para dosen cerdik cendikiawan  dan evaluasi dilakukan, semua itu diserahkan pada kita dalam membentuk bangsa yang berkarakter.

* Diolah dari berbagai sumber;  ** Dosen tetap agama Islam UI, dan Pascasarjana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s