Pembelajaran Entrepreneursip di Perguruan Tinggi

PEMBELAJARAN ENTREPRENEURSHIP DI PERGURUAN TINGGI*)

Oleh Widyo Winarso

PROLOG

. . . .

Aku bertanya:

Apa gunanya pendidikan.

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing

di tengah kenyataan persoalan?

Apa gunanya pendidikan,

bila hanya mendorong seseorang

menjadi layang-layang di ibukota.

kikuk pulang ke daerahnya?

Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra,

teknologi,

ilmu kedokteran.

atau apa saja,

bila pada akhirnya,

ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata:

“Di sini aku merasa asing dan sepi!”

Seonggok jagung dikamar

tak akan menolong seorang pemuda

yang pandangan hidupnya berasal dari buku,

dan tidak dari kehidupan.

Yang tidak berlatih dalam metode,

dan hanya penuh hafalan kesimpulan.

Yang hanya berlatih sebagai pemakai.

Tetapi kurang latihan berkarya.

Pendidikan telah memisahkan dengan kehidupan.

(Rendra, Sajak Seonggok jagung, potret pembangunan dalam PUISI 1975)

PENDAHULUAN

Hasil penelitian yang dilakukan oleh World Bank (1994) menunjukkan bahwa di sebagian besar negara keberadaan perguruan tinggi berkolerasi positif dengan pengembangan ekonomi dan sosial. Sebagian besar masyarakat juga percaya bahwa pendidikan tinggi mempunyai peran penting untuk mendapat karir pekerjaan dan menentukan keberhasilan dalam karir. Dengan menyadari akan tuntutan kepada dirinya. maka setiap perguruan tinggi harus sadar dan bersedia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh meningkatkan mutu kinerjanya. dan apabila tidak mampu melakukan itu, maka sungguh dampak yang ditimbulkannya akan menyebahkan kehidupan bangsa dan masyarakat Indonesia semakin buruk.

Kesadaran akan tanggung jawab moral itu mungkin perlu dijadikan sebagai pangkal tolak bagi perlunya strategi pengembangan pembelajaran bagi upaya untuk meningkatkan entrepreneurship pada diri mahasiswa. Selama ini perguruan tinggi telah mencetak sarjana yang sebagian menjadi pengangguran di berbagai bidang keahlian.

Pengangguran itu secara teoritik, antara lain disebabkan oleh rendahnya jiwa wirausaha dan atau entrepreneurship para lulusan-lulusan pendidikan tinggi menjadi asing di tengah persoalan masyarakat dan bangsanya.

Pengembangan pembelajaran di perguruan tinggi yang berwawasan entrepreneurship memang sangat relevan dengan persoalan kualitas sumberdaya manusia yang kita perlukan pada abad 21, sumberdaya manusia yang kreatif, inovatif dan berdaya saing.

Daya saing sumberdaya manusia Indonesia memang masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Oleh karena itu sebenarnya kita patut khawatir tentang kemampuan bersaing SDM kita dalam era global ini. Menurut data yang dipublikasikari oleh United Nations Development Programme (UNDP.2001), kualitas SDN kita berada pada posisi yang memprihatinkan.

Angka indeks kualitas SDM (human Development Index HDI) Indonesia tahun 2001 berada pada peringkat ke-102 dan 162 negara didunia. Kita kalah dengan Vietnam (101) dan kalah jauh dengan Philipines (70), Thailand (66) dan Malaysia (56). Sedangkan menurut laporan dari International Institute of Management Development tahun yang sama, daya saing SDM Indonesia menempati urutan 47 dan 48 negara. Data ini dapat diketahui betapa rendahnya daya saing SDM Indonesia untuk memperoleh posisi kerja yang baik dalam era global.

Jika proses pembelajaran di perguruan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan yang berwawasan pencipta kerja, mau tidak mau harus ada perubahan yang sistematik, baik dilihat dan segi tujuan, metode maupun materi pembelajaran itu sendiri, harus ada transformasi nilai-nilai dan norma-norma baru yang menyangkut kurikulum, academic atmosphere, effective governance, institutional mnanagement, dan sebagainya. Dalam keadaan yang demikian para pengelola pendidikan atau dosen tidak bisa lagi hanya mengulang-ulang praktek lama dalam proses pembelajarannya.

Dengan demikian, perubahan adalah identik dengan proses pembelajaran itu sendiri.

Dalam kaitannya dengan dunia usaha, kegiatan perguruan tinggi dalam bidang pengembangan kewirausahaan masih sangat terbatas. Belum fokus di dalam pembelajaran atau riset terkait entrepreneurship, apalagi industri. Padahal untuk meningkatkan penciptaan dan pertumbuhan wirausaha, dibutuhkan suatu keterpaduan yang sinergik antara penguasaan ilmu dan teknologi (termasuk komersialisasi hasil penelitian dan pengembangan), keuangan dan manajemen produksi, yang secara keseluruhan disebut Sosio-tekno-ekonomi.

Kecenderungan lembaga pendidikan tinggi untuk mengabaikan aspek sosio-tekno-ekonomi tersebut. mengakibatkan hasil-hasil kegiatan pendidikan. penelitian dan pengabdian masyarakat lebih bersifat akademis saja, sedikit sekali yang berlanjut dengan memberi kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Untuk menghadapi perdagangan bebas yang dibuka tahun 2003, budaya wirausaha harus terwujud sebagai sublimasi dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengetahuan kewirausahaan dalam diri setiap atau paling tidak sebagian besar lulusan perguruan tinggi. Di sisi lain sistem pembelajaran atau pendidikan yang selama ini dikembangkan belum menjamin terbentuknya kreativitas dan atau kompetensi bisnis/wirausaha dalam diri lulusannya.

Tuntutan yang semakin tinggi terhadap lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya menjadi pencari kerja (job seeker) tetapi juga pencipta kerja (job creator), menyebabkan perguruan tinggi harus melakukan reorientasi terhadap pembelajaran yang selama ini dijalankannya. Dengan adanya tuntutan itu maka reorientasi yang diharapkan adalah bagaimana menanamkan jiwa wirausaha kepada mahasiswa sehingga setelah lulus mereka juga mempunyai mental wirausaha. Implikasinya adalah tuntutan adanya lembaga kependidikan/unit entrepreneurship yang fokus menangani semua aspek pembelajaran entrepreneurship mulai dari pengembangan kuriklum, proses pembelajaran sampai dengan menghantarkan lulusan menjadi wirausaha baru.

KARAKTERISTIK ENTREPRENEURSHIP

Definisi Entrepreneurship

Beberapa tahun terakhir ini kata entrepreneurship menjadi perbincangan di kalangan perguruan tinggi. ini tidak terlepas dari adanya fenomena di mana banyak lulusan perguruan tinggi yang menganggur, karena jumlah lulusan tidak sebanding dengan peluang kerja yang tersedia. Kondisi ini mendorong para praktisi pendidikan di perguruan tinggi untuk melakukan reorientasi terhadap ˜warna” lulusannya yang dinilai bernuansa semata-mata pencari kerja (job seeker), bukan pencipta kerja (job creator).

lstilah entrepreneurship diperkenalkan pertama kali oleh Richard Cantillon seorang ekonom Irlandia yang berdiam di Perancis pada abad ke 18, yang mendefinisikan entrepreneurship sebagai “the agent who buys means of production at cerium prices in order to combine them into a new product” Dia menyatakan bahwa entrepreneur adalah seorang pengambil resiko. Tidak lama kemudian J.B Say dan Perancis menyempurnakan definisi Cantillon menjadi “one who brings other people together in order to build a single productive organism”

Artinya entrepreneur menempati fungsi yang lebih luas, yaitu seorang yang mengorganisasikan. Baru satu abad berikutnya ekonom Inggris sepenti Adam Smith dan John Stuart Mill membahas tentang konsep ini dan menyatakan bahwa entrepreneurship merupakan keterampilan yang tidak biasa, tetapi tidak menemukan istilah yang tepat di dalam bahasa Inggris. Smith dan Mill menyebutnya, business management. John Stuart Mill mcmisahkan fungsi entrepreneur antara yang menerima laba dan yang menerima bunga. Diperluas lagi oleh Schumpeter yang menempatkan manusia sebagai faktor sentral proses perkembangan ekonomi. Dalam proses itu entrepreneur melakukan inovasi dalam bentuk cara atau produk. dan eksploitasi sumber-sumber baru.

Bernard Komoroff pengarang Small Time Operator menulis. entrepreneur berasal dari bahasa Perancis entreprendre to undertake. Akar katanya berasal dari intreprise: one who organize, manage, and assumes the risk of business or enterprise.

Stephen Robbins (2000) menyatakan “..Entrepreneur is a process by which individuals pursue opportunities, fulfilling needs and wants through innovation, without regard to the resources they currently control”. Senada dengan Robbins adalah Bob Reiss (1999) yang mendefinisikan dalam bukunya, Low Risk, High Reward:

“.. Entrepreneurship is the recognition and pursuit of opportunity without regard to the resources you currently control, with confidence that you can succed. with the flexibility to change course as necessary, and with the will to rebound from setback..”

Kedua definisi ini menitikberatkan pada pemanfaatan peluang tanpa harus mcngandalkan sumberdaya yang dimiliki. Artinya seorang entrepreneur tidak harus mempunyai uang atau fasilitas dahulu untuk memulai usaha. Entrepreneurship tidak bermula dengan modal uang atau fasilitas, tetapi berakhir dengan kekayaan dan kesuksesan. Seorang entrepreneur mencari dan menemukan jalan mendapatkan sumberdaya untuk mcncapai tujuan. Karena itu seorang entrepreneur harus seorang yang kreatif.

Schermerhorn mendeskripsikan entrepreneurship sebagai perilaku yang dinamik, kreatif, berani menghadapi resiko dan dalam melakukannya selalu berorientasi pada inovasi. Seseorang dikatakan entrepreneur apabila dapat menunjukkan penilaku di atas dan mempunyai keinginan untuk melakukannya. Sedangkan entrepreneurship dipakai untuk mendeskripsikan perilaku entrepreneur seseorang atau satuan kerja dan suatu organisasi.

Dimensi Entrepreneurship

Dari pengertian entrepreneurship di atas dapat diketahui beberapa kata kunci yang berkaitan dengan indikator untuk mengukur bagaimana seseorang memiliki jiwa entrepreneur. Ditinjau dan faktor psikologis dapat diperoleh gambaran tentang perilaku yang berkaitan dengan entrepreneurship. Stoner (1998) menyatakan bahwa pada dasarnya entrepreneurship bergerak dan kebutuhan dasar manusia untuk berprestasi (need of achievement) seperti konsep/teori McCleland. Selanjutnya dikatakan bahwa seorang entrepreneur dapat dikenali karena mereka:

  • memiliki kebutuhan untuk berprestasi yang tinggi;
  • mempunyal letak kendali internal (locus of control), mengendalikan hidupnya sendiri:
  • toleran terhadap resiko,
  • toleran terhadap keragu-raguan; dan
  • mempunyai perilaku tipe A, dorongan untuk melakukan lebih banyak dalam waktu yang sedikit.

David Burnett (1999) mengemukakan bahwa secara umum entrepreneur adalah seorang:

  • pengambil resiko,
  • koordinator dan organisator,
  • penghubung (gap filler),
  • leader,
  • inovator dan kreatif.

Selanjutnya Covin & Slevin (1996) menyatakan bahwa pada dasarnya seorang entrepreneur dapat dikenali dari sikap dan perilakunya yang mencerminkan tiga dimensi, yaitu:

  • keinovatifan (Innovafiveness),
  • pengambilan resiko (risk-taking) dan.
  • keproaktifan (pro-activeness).

Inovatif mengacu pada kreativitas. ke-tidaklaziman, atau penyelesaian dengan cara baru terhadap masalah-masalah atau kebutuhan. Pengambilan resiko berkaitan dengan kemauan untuk sepakat bahwa terkadang memang kita harus merugi atau gagal. Sedang proaktif berkaitan dengan implementasi yaitu bagaimana melakukan sesuatu yang diperlukan untuk dapat berhasil.

Entrepreneurship ini dapat ditimbulkan atau dibentuk pada diri seseorang melalui pendidikan atau pelatihan. Pendidikan dan atau pelatihan entrepreneurship adalah proses pembelajaran konsep dan skills untuk mengenali peluang-peluang yang orang lain tidak sanggup melihatnya, untuk memiliki insight, self-esteem dan pengetahuan untuk bertindak sementara yang lain ragu-ragu. Termasuk di dalamnya belajar mengenali peluang dikaitkan dengan pemanfaatan sumber daya untuk menghadapi resiko dan memprakarsai bisnis baru.

Berdasarkan uraian di atas, maka entrepreneurship merupakan pemikiran dan tindakan tentang bagaimana seseorang dapat memanfaatkan peluang dan mengambil resiko dengan melakukan inovasi tanpa mengandalkan sumberdaya yang ada untuk mcncapai tujuan, walaupun yang dilakukan itu sulit penuh resiko. Selalu siap untuk mencari alternatif dalam mengatasi tantangan. hambatan, dan problematika pekerjaan.

ENTREPRENEURSHIP DAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN

Meredith at al (1996), sehubungan dengan entrepreneurship yang dikaitkan dengan pengembangan metoda pembelajaran, menyampaikan pesan sebagai berikut:

  • Anda harus belajar banyak tentang diri sendiri jika anda bermaksud untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang paling anda inginkan dalam hidup ini. Kekuatan anda datang dari tindakan-tindakan anda sendiri dan bukan dari tindakan orang lain.
  • Meskipun resiko kegagalan selalu ada, para entrepreneur mengambil resiko dengan jalan menerima tanggung jawab atas tindakan mereka sendiri.
  • Kegagalan harus diterima sebagai pengalaman belajar. Beberapa entrepreneur berhasil setelah mengalami banyak kegagalan. Belajar dan pengalaman masa lampau akan membantu anda menyalurkan kegiatan anda untuk mencapai hasil yang lebih baik, lebih positif dan keberhasilan merupakan buah dan usaha yang tak mengenal lelah.
  • Anda harus bersedia belajar dan berbagai pengalaman yang berubah dan waktu ke waktu. Anda harus selalu sadar akan cara-cara baru untuk meningkatkan produktivitas anda sendiri. Salah satu kunci utama bagi keberhasilan anda adalah keterlibatan anda dalam pertumbuhan pribadi secara terus menerus.

Tiga Ranah (Domain) Pendidikan/Pembelajaran

Menurut Bloom (1956), Kratwohl & Mesia (1964), Harlow (1970). Seels (1990), tiap mata kuliah pelajaran aau pokok bahasan dapat diidentifikasi adanya tiga ranah yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran yaitu: a) Pengetahuan (cognitive). b) Keterampilan (psychomotor), dan c) Sikap (affective).

Selanjutnya tiap ranah diklasifikasikan lagi dalam beberapa tingkat atau tahap kemampuan yang harus dicapai (level of competence). Untuk ranah “pengetahuan” mulai dari tingkat terendah yaitu mengingat kembali” (remembering) selanjutnya “memahami” (understanding), “penerapan” (applyng). “analisis” (analyzing), “evaluasi” (evaluating), sampai “kreasi” (creating). Ranah “keterampilan” mulai dari tingkat “observing” selanjutnya “modelling”, sampai secara “coaching”. Ranah “sikap” mulai dari “receiving/ merespon pasif”, “responding/ merespon aktif”, “valuing”, “organizing” sampai akhirnya “menjadi karakter atau jiwa di alam dirinya” (characterizing).

blooms-400x181
Tiga Ranah Taksonomi Bloom

Untuk tiga ranah pendidikan serta tingkat atau tahap kemampuan yang harus dicapai. diperlukan cara atau model pembelajaran tertentu yang sesuai, seperti misalnya: kuliah. Tutorial, diskusi kelompok, seminar, praktikum, simulasi (role playing), kerja lapangan, dan lain sebagainya. Khususnya untuk ranah sikap, selain cara pembelajaran tersebut diperlukan uswah/keteladanan (contoh) dan sikap atau perilaku staf pengajar. Menurut pendapat penulis untuk mengajarkan dan menumbuhkembangkan budaya entrepreneurship pada peserta didik, nampaknya dari ketiga ranah tersebut didominasi oleh ranah “afektif atau sikap” dengan tingkat kemampuan yang dicapai minimal internalisasi bahkan “menjadi karakterisasi/menjiwai” atau menjadi bagian dalam dirinya.

Pengetahuan entrepreneurship serta berbagai ranah pendidikan dan tingkat kemampuan yang harus dicapai tersebut di atas. dapat disimpulkan bahwa konsep entrepreneurship lebih merupakan suatu perilaku dan sikap yang akan ditumbuhkembangkan sampal menjadi karakter pada peserta didik, bukan suatu disiplin ilmu atau suatu mata pelajaran dan suatu batang atau cabang ilmu tertentu. Dengan demikian maka perlu dipilih cara dan atau proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga bila dilaksanakan dapat menumbuhkembangkan jiwa entrepreneurship pada anak didik.

Cara pembelajaran tersebut dapat dilakukan untuk setiap mata pelajaran atau ilmu yang diajarkan, sehingga sambil mempelajari suatu ilmu pada anak didik secara tidak langsung akan bertumbuhkembang jiwa entrepreneurship melalui dimensi-dimensinya, yaitu berpola pikir yang inovatif, kreatif, pro-aktif, fleksibel, berorientasi ke pengembangan dan bersikap berani ambil resiko setelah diperhitungkan dengan cermat dan masak.

Strategi/Inovasi Pembelajaran

Di dalam pelaksanaan pembelajaran dikenal satu strategi inovasi pembelajaran yang paling banyak diterapkan di pendidikan kedokteran dikenal dengan akronim SPICES, yang merupakan kependekan dari: Student-centered, Problem-based, Integratedicaching, Community-oriented, Early clinical exposure. and Self-directed learning. Srategi inilah yang menurut hemat penulis paling tepat diterapkan pada kuliah kewirausahaan Lebih jelas adalah sebagai berikut:

  • Student centered (SC). Guru atau dosen tidak lagi di tengah-tengah panggung belajar mengajar, dia keluar dari posisi sentral (tahu segala-galanya dan mahasiswa tidak tahu apa-apa) dan berpindah di tepi sebagal fasilitator. Di lain pihak mahasiswa berpindah posisi: dan peserta didik (pasif) menjadi peserta didik (aktif) dan posisinya di sentral proses belajar mengajar. Mahasiswa tidak lagi berperan sebagai objek, melainkan sebagai subjek. Yang senyatanya menjadi objek adalah ilmu yang ditawarkan di dalam kurikulum. Dengan demikian mahasiswa harus aktif mempelajani dan mencari ilmu, tidak lagi pasif menerima informasi dan dosen. sementara itu dosen yang bersangkutan berperan sebagai fasilitator.
  • Problem based (PB). Pendekatan pembelajaran yang tidak dapat dipisahkan dengan pendekatan SC. Dalam PB mahasiswa mempelajari ilmu berdasarkan masalah yang ada. Bekal untuk mempelajari masalah yang tersaji adalah prior knowledge yang telah diperoleh di waktu sebelumnya (TK, SD, SLTP, SMU, dan semester sebelumnya). Masalah yang disajikan dapat berasal dan kejadian sehari-hari yang sederhana, atau dari unit yang lebih besar lagi, sesuai dengan tingkat semester yang berlaku ataupun atas kesepakatan dalam menyusun silabus atau GBPP.
  • Integrated teaching (IT). Proses belajar mengajar yang tidak lagi terkotak-kotak menurut disiplin ilmu. Mahasiswa mempelajari suatu subjek secara terintegrasi, baik horisontal maupun verlikal. IT ini terakomodasi dalam PBL, yang memungkinkan mahasiswa untuk menyadari dan memahami keterkaitan serta relevansi dan efektivitas yang tinggi. Dalam setiap permasalahan mahasiswa mampu mempelajani berbagai cabang ilmu sekaligus relevansinya.
  • Community oriented (CO). Community dapat diartikan lebih spesifik sesuai dengan bidang ilmu yang terkait. Bidang teknologi, ekonomi, pendidikan, hukum, sosial, biologi, dsb., memiliki komunitas masing-masing yang bersifat spesifik. Dengan demikian CO dapat diimplementasikan pada seluruh bagian/disiplin ilmu. Pembelajaran yang bersifat CO sangat relevan dengan hakekat atau jiwa entrepreneurship; di sini tersirat adanya peluang dan sasaran yang dapat di kemhangkan dalam proses pembelajaran.
  • Early Clinical Exposure. Sebagaimana CO, istilah klinik dapat disesuaikan dengan konteks yang ada, menurut bidang ilmu masing-masing. Apabila menganut paham kedokteran, maka klinik dapat diartikan sebagai lahan utama sehari-hari. Dengan demikian tiap bidang ilmu memiliki klinik sendiri yang spesifik pula. Dengan demikian dapat ditarik benang merah bahwa dalam early clinical exposure para mahasiswa dikenalkan dengan bidang dan masalah utama secara dini (semester pertama). Pendekatan ini akan memberikan rasa mantap bagi mahasiswa dan mereka diharapkan segera menyatu dengan ilmu yang digelutinya.
  • Self Directed Learning adalah suatu kegiatan belajar secara mandiri: tahu apa yang dibutuhkan, bagaimana di mana dapat memperoleh bahan yang dibutuhkan dan semuanya didorong oleh sikap pro-aktif dan dengan daya antisipasi yang tinggi. Fasilitator berperan penting dalam mcnciptakan suasana pembelajaran seperti ini. Self directed learning yang mantap menumbuhkan sikap raking initiative and personal responsibility serta seeking and using feedback.
spices
SPICES Model Vs Traditional

Antara problem based learning dan problem solving (PS) terdapat perbedaan yang mendasar. Pada pendekatan PS maka mahasiswa telah memiliki prior knowledge yang cukup sehingga mereka mampu mengidentifikasi dan kemudian mendiagnosis masalah. Berdasarkan tingkat kemampuan tadi, mahasiswa diberi latihan untuk merancang suatu perlakuan agar masalah yang dihadapinya dapat diselesaikan. sehingga suatu yang dianggap bermasalah dapat kembali normal seperti sediakala. (Davey & Tatnall, 1994)

Dalam pelaksaanaannya PBL maupun PS sulit dihindari terjadinya tumpang tindih. Keadaan ini sebenarnya sangat menguntungkan mahasiswa karena hakekat pembelajaran tidak membatasi mahasiswa untuk rnemperoleh informasi yang seluas-luasnya. Hanya saja fasilitator harus disiplin dengan pendekatan pembelajaran yang sedang digarap bersama.

Relevansi antara PS dan entrepreneurship sangat jelas. Salah satu ciri entrepreneurship adalah persistent problem-solving. Dengan demikian PS perlu dikenalkan sesuai dengan tingkat kemampuan mahasiswa, agar mereka terlatih untuk mengidentifikasi dan mendiagnosis masalah serta kemudian merancang pemecahannya sesuai dengan konteksnya.

Peran Pengelola Jurusan/Program Studi

Setiap inovasi atau perubahan metoda pembelajaran harus dirancang, dilaksanakan, dan dimonitor serta dievaluasi oleh pengelola secara konsekuen dan konsisten. Prasyarat perubahan meliputi visi yang berani, pendekatan yang sistematik, maksud dan arah perubahan yang jelas, metoda yang spesifik, serta kepemimpinan yang efektif.

Visi yang berani merupakan awal perubahan (apapun bentuknya). Melalui visi dapat diklasifikasikan tujuan yang akan dicapai. Pendekatan yang sistematik bersifat menyeluruh, tersusun dalam kerangka organisasi yang terpadu. Pendekatan dapat bersifat bertahap dan berkesinambungan atau perombakan yang mendasar dan drastis. Apa yang diinginkan organisasi diwujudkan dalam tugas yang jelas dan spesifik. Dalam hal ini perubahan harus menghasilkan suatu organisasi yang dapat menampilkan perbedaan-perbedaan dengan masa lampau. Sementara itu, kepemimpinan yang efektif dicirikan oleh sifat kreatif, mampu menterjemahkan visi ke dalam serangkaian kegiatan, menyosialisasikan dan menjadikan budaya di dalam organisasi.

KESIMPULAN

Lulusan perguruan tinggi pada umumnya masih mengharapkan dapat bekerja pada instansi pemerintah atau swasta. Jumlah lulusan ini semakin lama semakin tidak seimbang apabila dibandingkan dengan lowongan atau kesempatan kerja yang tersedia. Hal ini menimbulkan angka pengangguran yang makin tinggi. Lulusan selalu ingin menjadi pekerja (employee) bukan self employee, apalagi business owner.

Salah satu upaya mengurangi atau menurunkan angka pengangguran, yang bersumber pada jumlah lulusan PT yang makin meningkat dan kesempatan kerja yang terbatas, adalah menyiapkan mahasiswa untuk memiliki jiwa entrepreneurship. menjadi lulusan yang berorientasi job creator, bukan job seeker.

Inovasi pembelajaran atau pendidikan entrepreneurship memerlukan strategi yang sesuai dan/atau dapat mengakomodasi karaterisktik entrepreneurship, dengan materi yang disusun berdasarkan dimensi-dimensi atau karateristik entrepreneurship, dengan capaian tingkat kognitif yang tinggi, dan menjadikan entrepreneurship sebagai karakter atau budaya hidupnya.

Pengelola jurusan harus menyusun desain pembelajaran yang komprehensif untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran entrepreneurship agar dapat dipertanggungjawabkan, khususnya kepada mahasiswa (pelanggan internal) dan masyarakat pada umumnya (pelanggan eksternal).

Dengan inovasi yang dilakukan dan apabila ini semua dijalankan, maka sinyalemen seperti sajak Rendra di awal tulisan menjadi tidak mengena dan tidak relevan untuk mengkritik kualitas lulusan pendidikan.

Catatan:

*)Artikel ini pernah dimuat di Jurnal Cetak PPT Kemdikbud Edisi Tahun 2003

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s