SUNNATULLAH DAN TAKDIR ILAHY

Oleh: Ma’zumi

(Universitas Sultan Ageng Tirtayasa)

 

Sunnatullah

Sunnatullah adalah segala aturan atau ketentuan Allah SWT. yang telah berlaku, yang sedang berlaku dan terus akan berlaku hingga Allah menghendakinya berhenti berlaku. Hukum sebab dan akibat, seperti melakukan sesuatu yang bersifat positif  akan berakibat positif, dan melakukan sesuatu yang bersifat negatif akan berakibat sesuatu yang negatif pula. Menurut Ahmad Kan’an[1], Sunatullah adalah hukum-hukum Allah yang terdapat dalam alam ciptaanNya.Artinya: “Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu”. (Q.S. Faathir: 43) Artinya: “Sebagai sunnah Allah yang Berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah”. (Q.S. Al-Ahzab: 62).

  1.  Sunnatullah diatur dan ditetapkan oleh Allah tanpa ada penyimpangan, sesuai dengan keseimbangan, kestabilan dan keteraturan, seperti adanya malam dan siang, api bersifat panas, kejahatan menuai dosa, kebaikan itu berbuah pahala. Penyimpangannya sesuai dengan iradahNya yang diberikan kepada yang dikehendakiNya sebagai sesuatu kelebihan, seperti mu’jizat. Sebagaimana firmanNya:
  2. Inti dari ajaran Islam adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah, bahwa tidak ada sesuatupun yang menyerupainya. Secara kosmologis melalui tauhid rububiyah, secara teologis melalui tauhid uluhiyah, dan pembentukan  tatanan sosial melalui tauhid mulkiyah. Bertauhid menjadikan seseorang dapat berperilaku secara harmoni pada semua tatanan kosmik.

Sunnatullah yang tidak mengalami perubahan merupakan jaminan bagi kemudahan manusia untuk merencanakan segala sesuatunya secara matang dan terprogram dengan perhitungan matang.

Takdir Allah 

Adanya pelaku perbuatan jahat dan pelaku perbuatan baik sebagai sunnatullah, orang yang menjadi korban atas perbuatan jahat atau menerima perbuatan baik seseorang pada waktu terjadi merupakan takdir Allah. Adanya malam dan siang sebagai sunnatullah, meninggalnya seseorang pada waktu malam atau siang merupakan takdir Allah. Ini menunjukkan bahwa tidak dapat dipisah antara keberlakuan sunnatullah dan takdir.Mengimani takdir sebagai rukun iman yang ke enam, adalah berprilaku secara sadar bahwa Allah maha Tahu apa yang terjadi dan yang akan terjadi, sehingga senantiasa dalam ketaatan; bahwa Allah mdenghendaki apa yang ada di langit dan di bumi, sehingga senantiasa matang dalam segala tindakan dan berserah diri kepadaNya; bahwa Allah sebagai pencipta, pengatur, pemilik mutlak, dan maha pemberi dan maha mengabulkan, sehingga senantiasa berbuat secara maksimal sesuai dengan potensi, berdoa dan bertawakkal kepadaNya. Allah akan mengabulkan do’a sesuai dengan ketentuan-ketentuan tentang terkabulnya do’a.

sebagaimana firmanNya:Artinya: “,….Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Qs. Al-Baqarah: 186)Artinya: “,….Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Qs. Al- Mu`min: 60)

Yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan do’a-do’a kita. Apa saja yang kita minta asalkan semua ketentuan-ketentuan tentang terkabulnya do’a kita penuhi. Dalam satu ayat Allah juga memerintahkan kepada kita untuk berdoa atau meminta dengan disertai kesabaran, salah satu media kesabaran adalah salat.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴿٦٠﴾

ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Allah menciptakan sisi baik dan buruk, surga dan neraka, tetapi Allah mustahil menghendaki hambanya berada dalam sisi ketidakbaikan. Akibat dari suatu ketidakbaikan yang dilakukan hambaNya adalah sebagai konsekuensi pilihan setelah Allah jelaskan mana yang baik (al-Rusydu) dan mana yang tidak baik (al-Ghayyu). Disinilah Kemahaadilan Allah atas hukum yang terdapat dalam sunnatullah dan takdirNya.

Artinya: “Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu“. (Q.S. Al-Hijr: 21)

Sayyid Sabiq menyatakan bahwa takdir adalah suatu peraturan tertentu yang telah dibuat oleh Allah untuk segala yang ada dalam alam semesta yang maujud. Peraturan itu merupakan undang-undang umum atau kepastian yang berlaku antara sebab dan musababnya, antara sebab dan akibatnya[2]. Sebagaimana firmanNya:

ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya: “,….Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Qs. Al-Baqarah: 186)

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴿٦٠﴾
Artinya: “,….Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Qs. Al- Mu`min: 60)

Yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan do’a-do’a kita. Apa saja yang kita minta asalkan semua ketentuan-ketentuan tentang terkabulnya do’a kita penuhi. Dalam satu ayat Allah juga memerintahkan kepada kita untuk berdoa atau meminta dengan disertai kesabaran, salah satu media kesabaran adalah salat.

*) Diolah dari berbagai sumber

**) Dosen Agama Islam, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten

[1]    Ahmad Kan’an, Perlunya Memahami Sunnah Rabbaniyah Dalam Dkwah, terjemah, Bustanudin Agus, (Jakarta:Bahrul Ilmi Press, 1993), hal. 98

[2]    Sayyid Sabiq, Aqidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman, Terjemah, Moh. Abdai Rathomy (Bandung: Diponegoro, 1978), hal. 149

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s